DENPASAR, SWAPNEWS.CO.ID — Gelombang unjuk rasa besar-besaran yang melanda Prancis dalam beberapa pekan terakhir turut berdampak pada aktivitas warga negara Indonesia (WNI) yang bermukim di negara tersebut. Situasi dilaporkan memanas saat aksi demonstrasi berujung ricuh pada Sabtu, 17 Oktober 2026, yang diwarnai aksi vandalisme, pembakaran kendaraan, penembakan gas air mata, hingga penjarahan.
Kesaksian WNI di Prancis Soal Kericuhan Demo 17 Oktober
DENPASAR, SWAPNEWS.CO.ID — Gelombang unjuk rasa besar-besaran yang melanda Prancis dalam beberapa pekan terakhir turut berdampak pada aktivitas warga negara…

Yang perlu Anda ketahui
DENPASAR, SWAPNEWS.CO.ID — Gelombang unjuk rasa besar-besaran yang melanda Prancis dalam beberapa pekan terakhir turut berdampak pada aktivitas warga negara…
Rachel Selvi, seorang WNI yang menetap di Kota Nantes—sekitar tiga jam perjalanan dari Paris—membagikan kesaksiannya mengenai kondisi terkini di wilayah tempat tinggalnya. Perempuan yang memegang visa pasangan (spouse visa) dan sehari-hari bekerja secara daring sambil mengurus keluarga ini memastikan bahwa dirinya beserta keluarga berada dalam kondisi selamat.
"Aku di sini aman, di tempat aku aman sih so far," ujar Rachel sebagaimana dikutip pada Selasa (20/10/2026).
Menurut penuturan Rachel, rangkaian aksi protes sebenarnya telah bergulir sejak pertengahan September lalu. Gelombang demonstrasi yang awalnya digerakkan oleh kalangan pelajar tersebut kini meluas dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat hingga aparat kepolisian. Desakan massa dipicu oleh tingginya biaya hidup serta ketidakpuasan terhadap sejumlah kebijakan pemerintah Prancis.
Hingga saat ini, pemerintah setempat dinilai belum mengambil langkah kebijakan yang mampu meredam gejolak publik. Di sisi lain, massa aksi menyatakan komitmennya untuk terus turun ke jalan sampai tuntutan mereka dipenuhi.
PUNCAK KERICUHAN DAN PENJARAHAN DI PUSAT KOTA
Rachel membenarkan bahwa berbagai tayangan visual di televisi maupun media sosial yang memperlihatkan kekacauan di jalanan Prancis memang sesuai dengan realitas di lapangan. Ia pun mengimbau masyarakat di Indonesia agar tidak mengharapkan kerusuhan serupa terjadi di Tanah Air.
"Memang sampai penjarahan dan lain-lain itu memang ada," tuturnya.
Kediaman Rachel sendiri berjarak sekitar 15 hingga 20 menit dari pusat kota Nantes yang menjadi titik utama bentrokan. Sebelum aksi besar pada 17 Oktober berlangsung, rencana unjuk rasa tersebut sejatinya telah diumumkan secara terbuka. Pemerintah Indonesia melalui perwakilan resminya juga telah menyebarkan imbauan melalui media sosial agar para WNI menjauhi titik-titik keramaian.
Kendati demikian, eskalasi kerusuhan pada hari itu berada di luar dugaan banyak warga. Mengingat aksi-aksi protes sebelumnya berjalan relatif tertib dan damai, masyarakat setempat tidak menyangka situasi akan berubah menjadi sangat mencekam. Rachel bahkan sempat berada di kawasan pusat kota bersama keluarganya tepat ketika aparat mulai menutup akses jalan-jalan utama sekitar pukul 13.00 waktu setempat.
Artikel ini dirangkum dan diolah kembali dari pemberitaan Tribunnews.com.

Memuat komentar...