Ada jenis kemalangan yang membuat orang lain menggelengkan kepala. Bukan karena peristiwanya mustahil dicegah, melainkan karena seseorang sebenarnya memiliki kesempatan untuk menghindarinya, tetapi justru mengambil keputusan yang membuat keadaan semakin buruk.
Stupid Misfortune: Ketika Kesalahan Sendiri Berujung pada Kemalangan
Stupid Misfortune adalah istilah populer untuk kemalangan yang muncul setelah seseorang mengambil keputusan ceroboh atau mengabaikan risiko. Melalui psikologi perilaku...

Yang perlu Anda ketahui
Stupid Misfortune adalah istilah populer untuk kemalangan yang muncul setelah seseorang mengambil keputusan ceroboh atau mengabaikan risiko. Melalui psikologi perilaku...
Seseorang sudah diperingatkan agar tidak mengambil risiko, tetapi tetap melakukannya. Ia tahu konsekuensinya, tetapi menganggap dirinya akan baik-baik saja. Ketika masalah akhirnya terjadi, ia terkejut, menyesal, lalu mencari alasan untuk menjelaskan mengapa semua itu bisa menimpanya.
Dalam bahasa populer, situasi semacam ini dapat disebut Stupid Misfortune: kemalangan yang muncul setelah keputusan ceroboh atau kesalahan penilaian yang sebenarnya bisa dihindari.
Istilah ini bukan diagnosis psikologis resmi. Namun, fenomena di baliknya menarik untuk dipahami karena menyentuh sesuatu yang sangat manusiawi: kita sering mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan, tetapi tidak selalu bertindak sesuai dengan pengetahuan tersebut.
Pertanyaannya, mengapa seseorang terkadang justru menjadi penyebab dari masalah yang akhirnya merugikan dirinya sendiri?
1. Ketika peringatan dianggap tidak penting
Bayangkan seseorang yang sedang terburu-buru. Ia tahu bahwa berkendara terlalu cepat berisiko, tetapi merasa jalanan cukup sepi dan dirinya mampu mengendalikan kendaraan.
Ia mengabaikan batas kecepatan, mengambil keputusan berdasarkan keyakinan sesaat, lalu mengalami kecelakaan.
Setelah kejadian itu, ia mengatakan bahwa dirinya hanya sedang tidak beruntung.
Memang, tidak semua kecelakaan terjadi akibat kelalaian. Ada faktor yang tidak bisa dikendalikan, dan seseorang yang mengalami musibah tidak otomatis bersalah. Namun, dalam contoh ketika risiko sudah diketahui dan sengaja diabaikan, keputusan seseorang dapat menjadi bagian penting dari penyebab masalah.
Pola serupa dapat muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang menghabiskan uang yang seharusnya disimpan untuk kebutuhan penting. Seorang karyawan menunda pekerjaan sampai tenggat terlewati. Pemilik usaha mengabaikan peringatan tentang keamanan data, lalu kehilangan akses ke sistemnya.
Situasinya berbeda, tetapi ada benang merah yang sama: keputusan jangka pendek diambil tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang secara memadai.
Di sinilah konsep Stupid Misfortune menjadi menarik. Kemalangan bukan selalu sesuatu yang datang dari luar. Dalam sebagian kasus, tindakan kita sendiri ikut membuka jalan menuju akibat yang tidak diinginkan.
2. Mengapa manusia melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah diketahui berisiko?
Jawabannya tidak sesederhana menyebut seseorang bodoh.
Manusia mengambil keputusan dengan melibatkan pengetahuan, emosi, kebiasaan, tekanan lingkungan, dan perkiraan terhadap konsekuensi. Semua unsur itu tidak selalu berjalan searah.
Ada beberapa mekanisme psikologis yang dapat membantu menjelaskan mengapa kesalahan yang bisa dihindari tetap terjadi.
Pertama, terlalu percaya diri.
Seseorang mungkin memahami bahwa suatu tindakan berbahaya, tetapi merasa dirinya cukup terampil untuk menghindari akibat buruk. Ia tidak menyangkal adanya risiko; ia hanya menganggap risiko tersebut lebih kecil bagi dirinya dibandingkan bagi orang lain.
Kedua, bias terhadap hasil yang menyenangkan.
Ketika keuntungan langsung terasa nyata, sementara kerugiannya masih jauh atau belum pasti, seseorang dapat lebih tertarik pada manfaat sesaat. Membeli barang yang tidak dibutuhkan terasa menyenangkan sekarang, sedangkan masalah keuangan baru terasa beberapa minggu kemudian.
Ketiga, keputusan impulsif.
Dalam kondisi marah, takut, malu, atau sangat bersemangat, seseorang bisa bertindak sebelum mempertimbangkan pilihan lain. Setelah emosi mereda, barulah ia melihat konsekuensi yang sebelumnya diabaikan.
Keempat, kebiasaan meremehkan peringatan.
Jika berkali-kali melakukan tindakan berisiko tanpa mengalami akibat buruk, seseorang bisa mulai menganggap bahwa tindakan tersebut aman. Padahal, tidak adanya masalah pada kesempatan sebelumnya bukan bukti bahwa risiko tidak ada.
Faktor-faktor ini tidak selalu muncul bersamaan. Namun, semuanya menunjukkan bahwa mengetahui sesuatu itu berbahaya tidak otomatis membuat seseorang mampu menghindarinya.
3. Perangkap pikiran: “Kali ini pasti tidak akan terjadi apa-apa”
Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi dapat menjadi awal dari keputusan yang buruk.
Seseorang pernah melanggar aturan dan tidak mengalami konsekuensi. Ia kemudian mengulangi tindakan yang sama, lalu melakukannya lagi. Setiap keberhasilan lolos dari risiko membuatnya semakin yakin bahwa ia bisa mengendalikan keadaan.
Padahal, ia mungkin hanya beruntung pada kesempatan sebelumnya.
Dalam psikologi pengambilan keputusan, manusia dapat mengalami bias ketika menilai kemungkinan suatu kejadian berdasarkan pengalaman yang terbatas. Kita juga cenderung lebih memperhatikan pengalaman yang mendukung keyakinan sendiri daripada bukti yang bertentangan dengannya.
Contohnya terlihat pada orang yang terus menunda pemeriksaan kesehatan karena sebelumnya merasa baik-baik saja, atau seseorang yang mengabaikan pencadangan data karena selama ini komputernya tidak pernah mengalami kerusakan.
Ketika masalah akhirnya terjadi, kerugiannya bisa jauh lebih besar daripada biaya pencegahan yang sebelumnya dianggap merepotkan.
Pelajaran pentingnya bukan bahwa setiap keputusan berisiko pasti berakhir buruk. Pelajarannya adalah bahwa hasil yang baik pada masa lalu tidak menjamin keputusan yang sama akan menghasilkan hasil serupa pada masa depan.
Keberuntungan yang berulang tidak sama dengan bukti bahwa suatu tindakan aman.
4. Ketika seseorang justru menciptakan masalahnya sendiri
Ada situasi yang lebih rumit daripada kesalahan sesaat, yaitu ketika seseorang berulang kali mengambil keputusan yang merugikan dirinya sendiri meskipun sudah melihat akibatnya.
Dalam pembahasan psikologi, pola tertentu dapat berkaitan dengan self-sabotage, istilah populer untuk perilaku yang menghambat tujuan atau keberhasilan diri sendiri.
Misalnya, seseorang ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, tetapi terus menunda pengiriman lamaran. Ia ingin membangun bisnis, tetapi tidak pernah memeriksa pengeluaran dan pemasukan. Ia ingin memperbaiki hubungan, tetapi selalu memilih diam ketika persoalan perlu dibicarakan.
Apakah semua perilaku tersebut berarti orang itu sengaja menghancurkan hidupnya sendiri?
Tidak.
Penundaan dapat berhubungan dengan rasa takut gagal, kesulitan mengatur tugas, kelelahan, kecemasan, atau kurangnya sumber daya. Seseorang juga mungkin belum memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk mengubah kebiasaannya.
Karena itu, istilah self-sabotage sebaiknya digunakan untuk menggambarkan pola perilaku yang menghambat tujuan, bukan sebagai diagnosis atau tuduhan bahwa seseorang sengaja membuat dirinya menderita.
Hal yang perlu diperiksa adalah apakah pola tersebut terus berulang, apa yang memicunya, dan apa yang membuat orang itu sulit mengambil langkah yang berbeda.
Memahami penyebabnya bukan berarti membenarkan semua tindakannya. Justru pemahaman tersebut dapat menjadi titik awal untuk mengubah perilaku yang merugikan.
5. Setelah melakukan kesalahan, mengapa sebagian orang malah mencari kambing hitam?
Salah satu bagian paling menarik dari kemalangan akibat keputusan sendiri adalah apa yang terjadi setelahnya.
Ketika akibat buruk muncul, seseorang harus menghadapi dua hal sekaligus: kerugian yang nyata dan kenyataan bahwa keputusan pribadinya mungkin ikut menyebabkan kerugian tersebut.
Mengakui kesalahan dapat terasa menyakitkan. Pengakuan itu bisa mengguncang citra diri sebagai orang yang cermat, kompeten, atau selalu mampu mengendalikan keadaan.
Sebagian orang kemudian berusaha melindungi citra dirinya dengan menyalahkan keadaan, orang lain, atau nasib.
“Kalau bukan karena dia, ini tidak akan terjadi.”
“Memang dari awal situasinya sudah tidak mendukung.”
“Saya hanya sedang sial.”
Pernyataan seperti itu tidak selalu keliru. Faktor eksternal memang dapat berperan. Masalah muncul ketika seseorang terus-menerus mengabaikan kontribusi keputusannya sendiri dan tidak mau memeriksa bagian yang masih bisa diperbaiki.
Dalam psikologi sosial, kecenderungan menjelaskan perilaku orang lain terutama melalui sifat pribadinya, sambil kurang mempertimbangkan keadaan yang memengaruhi tindakan tersebut, dikenal sebagai fundamental attribution error. Konsep ini mengingatkan kita agar tidak terburu-buru menghakimi orang lain.
Sebaliknya, ketika menilai diri sendiri, kita juga perlu waspada terhadap kecenderungan mencari alasan yang menguntungkan diri.
Pendekatan yang lebih sehat adalah memisahkan tiga pertanyaan:
Faktor apa yang berada di luar kendali saya?
Keputusan apa yang sebenarnya berada dalam kendali saya?
Apa yang bisa saya ubah agar masalah serupa tidak terulang?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak menghapus kesalahan masa lalu. Namun, pertanyaan tersebut mengubah penyesalan menjadi kesempatan untuk belajar.
6. Mengapa kemalangan orang lain kadang membuat kita tertawa?
Ada sisi lain yang juga menarik: reaksi orang yang menyaksikan kemalangan tersebut.
Ketika seseorang yang terkenal sombong melakukan kesalahan kecil, penonton mungkin tertawa. Ketika orang yang sering meremehkan orang lain akhirnya mengalami kegagalan, sebagian orang bahkan merasa puas.
Dalam psikologi, rasa senang atas kemalangan orang lain dikenal sebagai schadenfreude.
Penelitian menunjukkan bahwa perasaan ini dapat muncul dalam berbagai situasi, misalnya ketika orang menganggap kegagalan seseorang pantas diterima, ketika ada persaingan antarkelompok, atau ketika orang yang mengalami kemalangan sebelumnya menimbulkan rasa iri.
amun, tertawa karena seseorang terpeleset dalam situasi ringan tidak sama dengan merasa senang melihat orang lain mengalami kecelakaan serius, kehilangan pekerjaan, atau menderita.
Konteks, tingkat kerugian, hubungan antarindividu, dan alasan di balik reaksi tersebut sangat menentukan maknanya.
Ada pula risiko ketika hiburan berubah menjadi penghinaan. Video seseorang melakukan kesalahan bisa menyebar luas, lalu orang yang bersangkutan terus dijadikan bahan ejekan tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Kita boleh menilai suatu tindakan sebagai ceroboh. Namun, penilaian terhadap tindakan tidak harus berubah menjadi penolakan terhadap martabat orang yang melakukannya.
Sebab, setiap orang pernah mengambil keputusan yang kemudian disesalinya.
7. Bedakan kesalahan yang bisa diperbaiki dengan kemalangan yang tidak bisa dikendalika
Tidak semua kemalangan merupakan akibat dari kebodohan, kelalaian, atau keputusan buruk.
Seseorang bisa kehilangan pekerjaan karena perusahaan melakukan pengurangan karyawan. Sebuah usaha dapat mengalami kerugian akibat perubahan pasar yang tidak terduga. Orang yang berhati-hati pun dapat mengalami kecelakaan karena tindakan pihak lain.
Menyebut semua kemalangan sebagai akibat kesalahan korban merupakan penyederhanaan yang berbahaya.
Dalam kajian psikologi, penelitian mengenai atribusi terhadap kemalangan menunjukkan bahwa cara kita menilai penyebab suatu peristiwa dapat dipengaruhi oleh keyakinan tentang tanggung jawab, keadilan, dan siapa yang dianggap pantas menerima akibat tertentu.
Karena itu, sebelum menyebut suatu peristiwa sebagai Stupid Misfortune, ada baiknya kita memeriksa apakah orang tersebut benar-benar memiliki kendali yang memadai atas keputusan dan situasinya.
Apakah ia mengetahui risikonya? Apakah peringatan yang relevan tersedia? Apakah ia memiliki pilihan realistis? Apakah akibat tersebut memang dapat diperkirakan?
Pertanyaan-pertanyaan ini membantu membedakan kesalahan yang bisa dipelajari dari musibah yang tidak adil untuk dibebankan kepada korbannya.
8. Bagaimana menghentikan siklus kesalahan yang berulang?
Kita tidak dapat menghilangkan seluruh risiko dalam hidup. Namun, ada cara untuk mengurangi kemungkinan membuat keputusan yang sama-sama merugikan secara berulang.
Berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan penting. Jika keputusan dibuat ketika sedang marah, panik, atau terlalu bersemangat, beri diri sendiri waktu untuk menilai kembali konsekuensinya.
Uji keyakinan dengan bukti. Jangan hanya bertanya, “Apa yang membuat saya yakin keputusan ini benar?” Tanyakan juga, “Bukti apa yang dapat menunjukkan bahwa saya keliru?”
Hitung biaya terburuk yang masuk akal. Sebelum mengambil risiko, pertimbangkan bukan hanya keuntungan yang mungkin diperoleh, tetapi juga kerugian yang harus ditanggung jika hasilnya berbeda dari harapan.
Buat sistem pencegahan. Pengingat, daftar pemeriksaan, batas anggaran, pencadangan data, dan tenggat antara dapat membantu ketika niat baik saja tidak cukup.
Evaluasi tanpa menghancurkan harga diri. Mengakui bahwa keputusan kita salah tidak berarti kita adalah manusia yang gagal. Itu berarti ada satu keputusan yang perlu dipahami dan diperbaiki.
Cari bantuan ketika pola terus berulang. Jika perilaku berisiko atau kesulitan mengendalikan tindakan menimbulkan kerugian serius dalam kehidupan, berkonsultasi dengan tenaga profesional yang sesuai dapat membantu menemukan penyebab dan strategi penanganannya.
Tujuan dari semua langkah ini bukan membuat manusia selalu benar. Tujuannya adalah membuat kita lebih mampu belajar sebelum kesalahan yang sama menjadi semakin mahal.
Penutup: Jangan sampai kita membayar mahal untuk pelajaran yang sebenarnya sudah diberika
Stupid Misfortune menarik perhatian karena memperlihatkan sebuah ironi: terkadang, hal yang paling kita sesali bukan sesuatu yang tidak pernah kita ketahui, melainkan sesuatu yang sudah kita ketahui tetapi tetap kita abaikan.
Kita tahu bahwa menunda pekerjaan dapat menimbulkan masalah. Kita tahu bahwa mengambil risiko tanpa perhitungan bisa berujung kerugian. Kita tahu bahwa keputusan yang dibuat ketika emosi sedang memuncak sering membutuhkan evaluasi ulang.
amun, mengetahui tidak selalu berarti menjalankan.
Pada akhirnya, ukuran kedewasaan bukanlah kemampuan untuk tidak pernah melakukan kesalahan. Ukurannya adalah kemampuan untuk mengenali kesalahan, memahami faktor penyebabnya, dan mengubah tindakan sebelum pola yang sama kembali menghasilkan kerugian.
Kita juga perlu berhati-hati ketika menilai kemalangan orang lain. Tidak semua orang yang tertimpa musibah telah melakukan kesalahan, dan tidak semua kesalahan menunjukkan bahwa seseorang tidak cerdas.
Pertanyaan yang paling berguna bukan sekadar, “Bagaimana mungkin dia melakukan hal sebodoh itu?”
Pertanyaan yang lebih jujur adalah:
“Apa yang membuat keputusan itu terasa masuk akal baginya saat itu, dan apa yang bisa dipelajari agar kesalahan serupa tidak terulang?”
Sebab, jika kita hanya menertawakan kesalahan orang lain tanpa memeriksa cara kita sendiri mengambil keputusan, kita mungkin sedang menunggu giliran untuk mengalami kemalangan yang sama.
Catatan redaksi: Stupid Misfortune digunakan dalam artikel ini sebagai istilah populer, bukan diagnosis klinis. Artikel membahas kesalahan pengambilan keputusan dan respons manusia terhadap kemalangan tanpa menyimpulkan bahwa setiap orang yang mengalami kerugian bersalah atas nasibnya sendiri.
Referensi untuk redaksi
Krueger, J. I. & Funder, D. C. (2004). Towards a Balanced Social Psychology: Causes, Consequences, and Cures for the Problem-Seeking Approach to Social Behavior and Cognition. Behavioral and Brain Sciences.
Cikara, M. & Fiske, S. T. (2012). Stereotypes and Schadenfreude: Affective and Physiological Markers of Pleasure at Outgroup Misfortunes. Social Psychological and Personality Science. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3887033/
Smith, R. H. et al. (2009). Exploring the When and Why of Schadenfreude. Social and Personality Psychology Compass. https://doi.org/10.1111/j.1751-9004.2009.00181.x
Callan, M. J., Kay, A. C. & Dawtry, R. J. (2014). Making Sense of Misfortune: Deservingness, Self-Esteem, and Patterns of Self-Defeat. Journal of Personality and Social Psychology. https://doi.org/10.1037/a0036640

Memuat komentar...