Ada orang yang tidak tahu cara kerja sebuah teknologi, tetapi berbicara seolah-olah paling mengerti. Ada pula yang begitu mudah menjanjikan perubahan, menyusun rencana besar, dan mengkritik pekerjaan orang lain, tetapi sulit menunjukkan hasil nyata.
Sok Tahu, Anti Kritik, Banyak Bicara: Memahami Psikologi di Balik Perilaku Ini
Tidak memahami teknologi bukanlah masalah. Masalah muncul ketika seseorang menolak belajar, merasa paling benar, dan merendahkan keahlian orang lain. Ditambah kebiasaa...

Yang perlu Anda ketahui
Tidak memahami teknologi bukanlah masalah. Masalah muncul ketika seseorang menolak belajar, merasa paling benar, dan merendahkan keahlian orang lain. Ditambah kebiasaa...
Di dunia yang semakin bergantung pada teknologi, dua perilaku ini sering bertemu dalam satu situasi: seseorang yang belum memahami persoalan justru paling keras menentukan bagaimana persoalan itu harus diselesaikan.
Bayangkan sebuah tim sedang membangun website.
Seorang pengembang menjelaskan bahwa website membutuhkan domain, server atau layanan hosting, database, konfigurasi DNS, dan pengamanan yang sesuai. Penjelasan itu belum selesai ketika seseorang menyela.
“Ah, begitu saja kok susah? Tinggal bikin website, kan?”
Ketika ditanya bagaimana domain diarahkan ke server, apa fungsi database, atau bagaimana website tetap berjalan saat pengunjung meningkat, ia tidak memiliki jawaban yang jelas. Namun, alih-alih bertanya atau mempelajari persoalannya, ia justru menyalahkan orang yang sedang menjelaskan.
“Jangan kebanyakan teori. Saya sudah lama bekerja. Saya tahu mana yang benar.”
Di ruangan itu, masalahnya bukan lagi sekadar ketidaktahuan tentang teknologi. Masalahnya adalah ketika ketidaktahuan tidak diikuti kesediaan belajar, sementara rasa percaya diri digunakan untuk menutup ruang diskusi.
Fenomena semacam ini layak dibicarakan. Bukan untuk mempermalukan orang yang tidak menguasai teknologi, melainkan untuk memahami mengapa sebagian orang lebih memilih terlihat benar daripada berusaha menjadi lebih paham.
1. Tidak tahu teknologi bukan masalah. Menolak belajar adalah persoalan yang berbeda.
Tidak semua orang harus memahami server, domain, DNS, API, database, atau arsitektur cloud. Seorang pemilik usaha, misalnya, tidak wajib mampu mengonfigurasi server sendiri. Ia cukup memahami kebutuhan bisnisnya, risiko yang perlu dipertimbangkan, biaya, dan hasil yang ingin dicapai.
Begitu pula orang yang lebih senior dalam usia atau pengalaman kerja. Pengalaman di satu bidang tidak otomatis membuat seseorang ahli di bidang lain.
Masalah muncul ketika pengalaman masa lalu diperlakukan sebagai bukti bahwa pendapatnya pasti benar dalam semua keadaan.
Teknologi berkembang dengan cepat. Cara membangun dan mengelola website sepuluh tahun lalu bisa berbeda dari pendekatan yang relevan saat ini. Karena itu, orang yang berpengalaman sekalipun perlu memeriksa kembali pengetahuannya.
Kalimat “Saya belum memahami bagian ini. Bisa jelaskan?” bukan tanda kelemahan. Justru itulah salah satu cara paling masuk akal untuk mengurangi kesalahan.
Sebaliknya, kalimat “Saya tidak tahu, tetapi saya tetap paling benar” menutup kesempatan untuk memperbaiki keputusan.
Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan ini bisa menentukan apakah sebuah tim berkembang atau terus mengulang kesalahan yang sama.
2. Ketika rasa percaya diri melampaui pengetahua
Dalam psikologi, ada konsep yang populer disebut Dunning–Kruger effect. Istilah ini berasal dari penelitian Justin Kruger dan David Dunning pada 1999 mengenai hubungan antara kemampuan seseorang dan penilaian dirinya terhadap kemampuan tersebut.
Konsep ini sering digunakan untuk menjelaskan situasi ketika seseorang menilai kompetensinya secara tidak akurat. Dalam konteks tertentu, keterbatasan pengetahuan juga dapat membuat seseorang kesulitan mengenali apa yang belum diketahuinya.
amun, konsep ini perlu digunakan secara hati-hati. Penelitian lanjutan memperdebatkan penjelasan populer tentang efek tersebut. Tidak tepat menyimpulkan bahwa semua orang yang kurang ahli pasti merasa paling pintar, atau memberi label Dunning–Kruger kepada siapa pun yang bersikap arogan.
Yang lebih penting untuk diamati adalah perilakunya.
Apakah orang tersebut mau memeriksa fakta? Apakah ia bersedia mendengar penjelasan yang bertentangan dengan keyakinannya? Apakah ia mengakui kesalahan ketika bukti menunjukkan bahwa pendapatnya keliru?
Seseorang boleh tidak menguasai teknologi. Ia juga boleh memiliki pendapat yang berbeda dari seorang programmer atau administrator server.
Tetapi ketika pendapat disampaikan sebagai fakta tanpa dasar, lalu setiap koreksi dianggap sebagai serangan pribadi, diskusi profesional akan berubah menjadi perebutan harga diri.
Percaya diri adalah hal yang berguna. Percaya diri tanpa kesediaan menguji diri sendiri dapat menjadi sumber kesalahan.
3. Mengapa sebagian orang sulit menerima koreksi?
Ada beberapa kemungkinan yang dapat membantu menjelaskan perilaku defensif. Tidak satu pun cukup untuk memastikan diagnosis psikologis seseorang hanya dari satu kejadian.
Pertama, koreksi dapat dirasakan sebagai ancaman terhadap harga diri. Bagi sebagian orang, mengakui ketidaktahuan terasa seperti kehilangan wibawa, terutama jika mereka terbiasa menjadi pihak yang paling didengar.
Kedua, ada kecenderungan mempertahankan keyakinan lama meskipun informasi baru menunjukkan hal yang berbeda. Dalam pembahasan psikologi, hal ini berkaitan dengan bias kognitif, termasuk kecenderungan mencari atau menafsirkan informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dimiliki.
Ketiga, posisi sosial dan jabatan terkadang membuat seseorang terbiasa memberikan instruksi, tetapi jarang menerima koreksi. Akibatnya, ketika berada di lingkungan yang menuntut keahlian berbeda, ia mungkin kesulitan menyesuaikan cara berkomunikasi.
Perlu dibedakan: ketiganya merupakan kemungkinan penjelasan, bukan alasan untuk menghakimi semua orang yang keras kepala. Sikap defensif juga bisa muncul karena stres, komunikasi yang buruk, pengalaman diremehkan, atau ketidakjelasan peran.
Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan “Orang ini punya penyakit apa?”, melainkan “Apakah ia bersedia mempertimbangkan bukti, memperbaiki kesalahan, dan bertanggung jawab atas keputusannya?”
Jawaban atas pertanyaan itulah yang lebih relevan untuk menilai kualitas kerja sama.
4. Fenomena kedua: banyak bicara, banyak janji, tetapi minim tindaka
Ada pola lain yang sering melelahkan orang di sekitarnya: seseorang yang sangat produktif dalam percakapan, tetapi tidak menunjukkan kemajuan sebanding dalam pekerjaan.
Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam menjelaskan apa yang akan dilakukan. Ia memiliki banyak ide, banyak kritik, dan banyak rencana. Ia juga sering mengatakan bahwa dirinya mampu menyelesaikan persoalan dengan lebih baik daripada orang lain.
amun, ketika tiba waktunya bekerja, hasilnya tidak terlihat.
Dalam rapat, ia mengatakan akan menyelesaikan proyek minggu ini. Ketika tenggat tiba, muncul alasan baru. Ia kemudian membuat janji berikutnya, menyampaikan strategi yang lebih besar, dan kembali meyakinkan semua orang bahwa kali ini hasilnya akan berbeda.
Siklus tersebut terus berulang.
Dalam psikologi, tidak ada satu diagnosis resmi bernama “penyakit banyak bicara tanpa kerja” yang dapat digunakan untuk menjelaskan semua perilaku ini. Ada beberapa konsep yang lebih tepat untuk memahami bagian-bagian tertentu dari pola tersebut.
Salah satunya adalah intention–behavior gap, yaitu kesenjangan antara niat dan perilaku nyata. Penelitian menunjukkan bahwa niat yang kuat tidak selalu berubah menjadi tindakan. Seseorang dapat sungguh-sungguh ingin melakukan sesuatu, tetapi gagal memulai, mempertahankan usaha, atau menyelesaikannya.
Prokrastinasi juga dapat berperan ketika seseorang terus menunda tugas yang seharusnya dikerjakan.
Di sisi lain, ada perilaku impression management, yaitu upaya mengatur kesan yang ditangkap orang lain. Dalam situasi tertentu, seseorang mungkin lebih berfokus membangun citra sebagai orang kompeten daripada memperlihatkan proses dan hasil kerjanya.
Akan tetapi, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semua orang yang banyak berbicara sedang berpura-pura. Ada orang yang kesulitan mengeksekusi rencana karena beban kerja, keterbatasan sumber daya, ketakutan gagal, atau belum memiliki sistem kerja yang baik.
Pembeda yang penting adalah pola yang berulang: apakah janji diikuti langkah konkret, apakah hambatan disampaikan dengan jujur, dan apakah orang tersebut mengambil tanggung jawab ketika target tidak tercapai?
Ide bisa membuka jalan. Janji bisa membangun harapan. Namun, keduanya tidak dapat menggantikan pekerjaan yang benar-benar diselesaikan.
5. Ketika dua perilaku itu bertemu dalam satu tim
Bayangkan seorang pemilik proyek ingin membangun website untuk bisnisnya.
Ia tidak memahami perbedaan domain dan hosting. Itu bukan masalah, karena ia dapat menyerahkan aspek teknis kepada orang yang kompeten.
amun, ia menolak penjelasan teknis, menuntut hasil yang tidak sesuai dengan anggaran, dan menganggap setiap pertanyaan sebagai tanda bahwa tim tidak mampu bekerja.
Pada saat yang sama, ia sendiri sering menyampaikan ide besar, berjanji menyediakan materi, menjanjikan anggaran tambahan, atau mengatakan akan menghubungi calon mitra. Tugas-tugas itu tidak pernah benar-benar selesai.
Ketika website terlambat, tim teknis yang disalahkan.
Dalam kondisi seperti ini, tim bukan hanya menghadapi tantangan teknis. Mereka juga menghadapi masalah tata kelola: keputusan tidak didasarkan pada informasi yang cukup, tanggung jawab tidak jelas, dan keberhasilan dinilai dari siapa yang paling meyakinkan ketika berbicara.
Akibatnya dapat merembet ke mana-mana.
Orang yang benar-benar bekerja kehilangan waktu untuk memperbaiki masalah. Rapat bertambah panjang. Kepercayaan menurun. Anggota tim menjadi enggan memberikan masukan karena tahu penjelasan mereka mungkin akan dipotong atau ditolak.
Lama-kelamaan, orang yang paling banyak berbicara justru mendapat perhatian terbesar, sementara orang yang mengerjakan detail penting menghadapi tekanan paling besar.
Ini bukan persoalan usia. Orang muda pun bisa bersikap sok tahu dan gemar membuat janji. Orang yang lebih tua pun bisa menjadi pembelajar yang rendah hati, terbuka, dan sangat efektif.
Persoalannya adalah bagaimana seseorang memperlakukan pengetahuan, kritik, tanggung jawab, dan bukti.
6. Mengapa orang yang benar-benar bekerja sering terlihat lebih sedikit bicara?
Pekerjaan nyata menuntut seseorang berhadapan dengan batasan yang konkret.
Seorang pengembang website harus mempertimbangkan keamanan, kecepatan, biaya infrastruktur, kapasitas database, pengelolaan konten, pemeliharaan, dan risiko kegagalan. Sebuah keputusan yang terlihat sederhana dari luar bisa memiliki konsekuensi teknis yang panjang.
Orang yang mengerjakan tugas tersebut akan menemukan banyak hal yang belum diketahui. Ia akan melihat bahwa keputusan terbaik sering bergantung pada kebutuhan, anggaran, skala, dan kondisi sistem.
Karena itu, orang yang berpengalaman dalam suatu bidang belum tentu selalu berbicara dengan kepastian mutlak. Ia mungkin justru lebih banyak bertanya, memeriksa, menguji, dan menjelaskan batasan.
Tentu saja, orang yang kompeten juga bisa komunikatif dan banyak berbicara. Banyak bicara bukan masalah dengan sendirinya. Begitu pula orang yang pendiam belum tentu produktif.
Ukuran yang lebih masuk akal adalah kesesuaian antara klaim dan bukti.
Jika seseorang mengatakan mampu membangun sistem, tanyakan rancangan, hasil pengujian, demonstrasi, atau proyek yang pernah diselesaikannya. Jika ia menjanjikan tenggat, sepakati tahapan dan kriteria penerimaan. Jika ia mengkritik pendekatan yang digunakan tim, mintalah alternatif yang dapat diuji.
Dengan begitu, penilaian tidak bergantung pada gaya bicara, senioritas, atau siapa yang paling dominan dalam ruangan.
7. Cara menghadapi orang yang sok tahu dan tidak menepati janji
Menghadapi perilaku seperti ini tidak selalu membutuhkan konfrontasi. Sering kali, yang lebih efektif adalah membangun batas dan mekanisme kerja yang jelas.
Pertama, pisahkan pendapat dari fakta.
Jika seseorang mengatakan bahwa server tidak diperlukan, jangan langsung membalas dengan serangan pribadi. Tanyakan bagaimana website akan disajikan kepada pengunjung, di mana aplikasi dijalankan, dan bagaimana data dikelola. Fokuskan diskusi pada kebutuhan dan konsekuensi teknis.
Kedua, gunakan bahasa yang tegas tanpa merendahkan.
Kalimat seperti “Kita bisa mempertimbangkan usulan itu, tetapi kita perlu memeriksa biaya, risiko, dan hasil pengujiannya terlebih dahulu” membantu mengembalikan diskusi ke substansi.
Ketiga, ubah janji menjadi komitmen yang dapat diperiksa.
Jangan hanya mencatat bahwa seseorang akan menyelesaikan pekerjaan. Tentukan apa yang harus diserahkan, siapa penanggung jawabnya, kapan tenggatnya, dan bagaimana hasilnya dinilai.
Keempat, dokumentasikan keputusan.
Catatan rapat, pembagian tugas, perubahan ruang lingkup, dan persetujuan anggaran dapat mengurangi perselisihan mengenai siapa yang pernah menjanjikan apa.
Kelima, evaluasi pola, bukan satu kegagalan.
Satu keterlambatan tidak otomatis membuktikan seseorang tidak bertanggung jawab. Namun, janji yang berulang kali tidak dipenuhi tanpa komunikasi atau perbaikan merupakan alasan yang masuk akal untuk meninjau kembali kepercayaan dan pembagian tanggung jawab.
Terakhir, jangan merasa wajib memenangkan setiap perdebatan. Tujuan bekerja bukan membuat orang lain mengakui bahwa kita paling pintar. Tujuannya adalah menyelesaikan persoalan dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan.
8. Ukuran kedewasaan bukan seberapa keras seseorang berbicara
Kita hidup di masa ketika hampir semua orang dapat mengakses informasi, tetapi akses informasi tidak otomatis menghasilkan pemahaman.
Menonton video tentang server tidak sama dengan mampu mengelola infrastruktur. Membaca tentang kecerdasan buatan tidak otomatis membuat seseorang mampu membangun sistem AI. Memiliki ide bisnis tidak sama dengan menjalankan bisnis yang sehat.
Pengetahuan memerlukan proses. Keahlian memerlukan latihan. Keputusan memerlukan pertimbangan. Dan pekerjaan membutuhkan tindakan yang konsisten.
Hal yang sama berlaku dalam hubungan sosial. Mengkritik itu mudah ketika kita tidak ikut menanggung konsekuensi. Menyusun rencana terasa menyenangkan ketika belum harus berhadapan dengan kesulitan pelaksanaannya.
Kedewasaan terlihat ketika seseorang sanggup mengatakan bahwa ia belum tahu, bersedia menerima koreksi, mengubah pendapat berdasarkan bukti, dan menyelesaikan tanggung jawabnya meskipun tidak selalu mendapat pujian.
Orang yang tidak memahami teknologi masih bisa menjadi pemimpin yang baik jika ia menghormati keahlian timnya. Orang yang pernah gagal menepati janji masih bisa memperbaiki diri jika ia mengakui masalah dan mengubah cara kerjanya.
Yang patut diwaspadai bukan ketidaktahuan atau kegagalan sesaat, melainkan pola ketika seseorang terus menuntut kepercayaan tanpa membangun dasar yang layak untuk dipercaya.
Penutup: Pada akhirnya, siapa yang benar-benar menyelesaikan masalah?
Ada perbedaan besar antara orang yang belum tahu dan orang yang tidak mau belajar. Ada pula perbedaan antara orang yang memiliki banyak ide dan orang yang menggunakan ide sebagai pengganti tindakan.
Kita tidak perlu memberi label penyakit mental kepada setiap orang yang arogan, defensif, atau tidak produktif. Diagnosis psikologis membutuhkan penilaian yang tepat, bukan sekadar ketidaksukaan terhadap perilaku seseorang.
amun, kita tetap berhak menilai perilaku yang terlihat, menetapkan batas, dan meminta pertanggungjawaban.
Dalam pekerjaan, kepercayaan tidak semestinya dibangun hanya dari jabatan, usia, suara yang keras, atau janji yang terdengar meyakinkan. Kepercayaan tumbuh ketika kata-kata sesuai dengan tindakan dan keputusan bersedia diuji oleh bukti.
Jadi, ketika bertemu seseorang yang merasa paling mengerti tetapi menolak belajar, atau yang terus berbicara tentang hasil tanpa pernah menunjukkan kemajuan, mungkin ada dua pertanyaan yang lebih berguna daripada sekadar menyebutnya sok pintar.
Apakah orang ini bersedia belajar ketika ia tidak tahu? Dan apakah ia bersedia bertanggung jawab atas apa yang telah ia janjikan?
Jawabannya akan memberi gambaran yang jauh lebih jelas tentang bagaimana kita sebaiknya bekerja dengannya.
Catatan redaksi: Artikel ini merupakan pembahasan psikologi populer berbasis literatur, bukan diagnosis klinis. Istilah Dunning–Kruger effect, intention–behavior gap, dan impression management digunakan untuk menjelaskan konsep tertentu, bukan untuk menetapkan gangguan mental pada individu.
Referensi riset
Kruger, J. & Dunning, D. (1999). Unskilled and Unaware of It: How Difficulties in Recognizing One's Own Incompetence Lead to Inflated Self-Assessments. Journal of Personality and Social Psychology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10626367/
Skill and self-knowledge: empirical refutation of the dual-burden account of the Dunning–Kruger effect. Kajian yang menguji kembali penjelasan populer mengenai efek tersebut. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9727674/
Sheeran, P. & Webb, T. L. (2016). The Intention–Behavior Gap. Social and Personality Psychology Compass. https://doi.org/10.1111/spc3.12265
Bolino, M., Long, D. & Turnley, W. (2016). Impression Management in Organizations: Critical Questions, Answers, and Areas for Future Research. Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior. https://doi.org/10.1146/annurev-orgpsych-041015-062337

Memuat komentar...