JAKARTA. Swapnews.co.id - Indonesia dikenal dengan banyaknya keberagaman suku dan budaya. Salah satu suku tertuanya yakni suku Mentawai. Dilansir dari laman resmi Kemlu RI, suku Mentawai adalah suku asli dari Kepulauan Mentawai, Pulau Siberut, Sumatera Barat. Suku ini berada di pedalaman dan hidup terisolasi selama berabad-abad hingga ditemukan pada 1621 oleh Belanda. Daerah hunian warga Mentawai, selain di Mentawai juga di Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan.
MENJELAJAH KEAJAIBAN SUKU MENTAWAI: PEMILIK TATO TERTUA DI DUNIA
Temukan keunikan budaya Suku Mentawai yang mendunia. Mulai dari tradisi rajah tertua, rumah adat tanpa paku, hingga harmoni magis bersama alam.

Yang perlu Anda ketahui
Temukan keunikan budaya Suku Mentawai yang mendunia. Mulai dari tradisi rajah tertua, rumah adat tanpa paku, hingga harmoni magis bersama alam.
Bertahan selama berabad-abad, membuat budaya dan adat istiadat suku Mentawai menjadi tangguh dengan fondasi yang kuat dan terjaga di tengah arus modernisasi.
Total populasi penghuni asli Suku Mentawai diperkirakan sekitar 64.000 jiwa. Lebih dari 30.000 jiwa menetap di Pulau Siberut, dan sebagian dari mereka masih hidup secara tradisional dan seminomadik di dalam kawasan hutan.
Bahasa Mentawai terdiri atas tiga dialek, yaitu dialek Siberut Utara dituturkan di Desa Monganpoula, Kecamatan Siberut Utara, dialek Siberut Selatan dituturkan di Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, dan dialek Sipora Pagai dituturkan di Desa Sioban, Kecamatan Sipora, dan Desa Makalo, Kecamatan Pagai Selatan.
Kebudayaan suku Mentawai yang masih dilestarikan hingga kini yang menjadi daya tarik dari suku tersebut. Berikut beberapa kebudayaan suku Mentawai :
KEPERCAYAAN ARAT SABULUNGAN
Sebelum mengenal agama Kristen, suku Mentawai mengikuti kepercayaan mereka sendiri yang disebut Arat Sabulungan. Ini adalah kepercayaan animisme karena mereka percaya bahwa benda memiliki roh dan jiwa. Jika roh tidak dirawat dengan baik atau dilupakan, maka roh tersebut akan bergentayangan yang mengakibatkan nasib buruk seperti penyakit dan menghantui mereka yang melupakannya. Masyarkat suku Mentawai juga memiliki keyakinan yang sangat kuat terhadap benda-benda yang mereka anggap suci. Namun kini hampir semua orang Mentawai sudah memeluk agama, khususnya agama Kristen, baik Protestan maupun Katolik, serta sebagian Islam dan beberapa diantaranya masih menganut kepercayaan lama, Arat Sabulungan. Salah satu gereja lokal untuk suku Mentawai adalah Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM), yang didirikan pada 6 Juli 1916, dan memiliki jemaat sekitar 35.000 orang.
RUMAH ADAT SUKU MENTAWAI
Suku Mentawai tinggal dalam rumah adat yang disebut Uma. Rumah adat ini dibangun di atas tanah-tanah suku. Bangunannya terbuat dari kayu. Menariknya, Uma ini dibangun tanpa menggunakan paku, melainkan sambungan silang bertakik dan pasak untuk menyambung bahan bangunan.
Uma juga menjadi identitas dari masyarakat suku Mentawai. Ciri khas dari Uma yakni bentuknya seperti rumah panggung dengan tiang dan atap memanjang dengan rumbia atau daun pohon sagu. Bagian bawah uma digunakan sebagai tempat memelihara hewan ternak, seperti babi.
Seluruh makanan, hasil hutan dan pekerjaan dibagi di dalam satu uma. Biasanya, dalam satu uma dihuni lima sampai tujuh keluarga dengan satu garis keturunan. Uma juga menjadi pusat kehidupan suku Mentawai. Mereka melakukan berbagai kegiatan seperti menyelenggarakan pertemuan ataupun upacara adat pernikahan.
Selain uma sebagai bangunan utama, ada juga bangunan lain, yakni lalep dan rusuk. Lalep yang terletak di dalam uma ini sebagai tempat tinggal suami istri yang pernikahannya dianggap sah secara adat. Sedangkan rusuk adalah rumah pemondokan untuk anak-anak muda atau janda yang diusir dari kampung, serta orang-orang yang diasingkan karena melanggar adat.
TATO SUKU MENTAWAI
Tato suku Mentawai (titi) merupakan tato tertua di dunia, yang sudah ada sejak 1500 SM. Suku Mentawai menganggap tato sebagai identitas yang menggambarkan keseimbangan antara penghuni hutan dan alamnya.
Bagi masyarakat suku yang masih tinggal di pedalaman, tato dianggap sebagai bentuk pakaian, untuk dukun suku Mentawai, memoliki tato menjadi kewajiban, sedangkan bagi masyarakat Mentawai, tato bukanlah hal yang wajib.
Uniknya, tato di suku Mentawai ini terbuat dari bahan alami berupa arang, dengan proses pembuatan yang masih sangat tradisional. Proses pembuatan tato Mentawai (titi) diawali dengan ritual doa (panaki) yang dipimpin oleh sikerei (tabib atau dukun adat) untuk memohon dan memanjatkan doa keselamatan bagi orang yang akan ditato.
Lelaki Mentawai harus di tato, karena bagi mereka tato adalah perhiasan dan keyakinan. Gambar tato Mentawai juga mewakili identitas mengenai tanah asal, status sosial dan seberapa hebatnya pemilik tato sebagai pemburu.
MERUNCINGKAN GIGI
Tradisi kebudayaan suku Mentawai lainnya adalah gigi runcing, yang biasa dilakukan perempuan suku ini. Hal ini karena gigi runcing menjadi simbol kecantikan. Mereka percaya semakin runcing giginya, maka perempuan dianggap semakin cantik dan merupakan tanda wanita sudah mencapai kedewasaan. Selain itu, tradisi ini juga merupakan simbol keseimbangan antara tubuh dan jiwa.
Tradisi ini bertujuan untuk mengendalikan diri dari enam sifat buruk manusia, yakni nafsu, keserakahan, kemarahan, mabuk, kecemburuan dan kebingungan. Proses meruncingkan gigi membutuhkan banyak waktu, karena jumlah gigi yang diruncingkan atau dikerik sebanyak 23 gigi. Alat yang digunakan yakni kayu atau besi yang sudah diruncingkan.
BERBURU
Hidup dikelilingi hutan, membuat masyarakat suku Mentawai mengandalkan alam sebagai jantung kehidupan. Salah satunya dengan melakukan perburuan binatang liar yang dilakukan laki-laki suku Mentawai. Mereka berburu untuk mencari bahan makanan yang nantinya diolah di uma, rumah adat mereka. Namun, kegiatan berburu tidak bisa dilakukan sembarangan. Mereka menyiapkan senjata buruan dan membuat racun alami untuk berburu hewan.
Namun, selain berburu untuk memenuhi kebutuhan makanan, masyarakat Mentawai juga mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Mereka memiliki pohon sagu yang nantinya ditebang menggunakan cara yang tepat agar tidak merusak pohon sagu lainnya.
TRADISI SIKEREI
Sikerei artinya dukun yang dipercayai mempunyai kemampuan supranatural untuk menyembuhkan penyakit menggunakan ratusan jenis ramuan tumbuhan hutan serta doa atau mantra. Sikerei juga merupakan pemimpin adat dan ritual yang memimpin upacara adat di rumah adat (uma) seperti ritual pengobatan, pernikahan, atau pesta panen demi keselamatan keluarga. Serta sebaga penghubung alam dan leluhur yang menjadi perantara antara dunia manusia dan roh leluhur serta menjaga kelestarian hutan hujan
Proses penyembuhan dilakukan dengan memberi ramuan obat dari tumbuhan yang diikuti dengan tarian mistis dan sacral bernama Turuk Laggai
Suku Mentawai percaya bahwa jiwa orang yang sakit sedang meninggalkan raga orang tersebut. Karena itulah, mereka menggunakan bantuan Sikerei untuk memanggil kembali jiwa tersebut agar kembali ke dalam raga. (YSM)

Memuat komentar...