JONGGOL. Swapnews.co.id – Riuh rendah suara warga menyambut kedatangan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, atau yang akrab disapa KDM, di kawasan Citra Indah City, Jonggol, hari ini 16 April 2026. Bukan tanpa alasan, kehadiran orang nomor satu di Jawa Barat tersebut bertujuan untuk meresmikan secara simbolis gedung baru SMAN 3 Jonggol.
Pembangunan SMAN 3 Jonggol ini menelan anggaran APBD sebesar Rp7,7 miliar ini menjadi sorotan tajam. Pasalnya, lokasi sekolah yang berada di dalam kawasan hunian mandiri perumahan Citra Indah City ini sempat memicu perdebatan mengenai aksesibilitas bagi warga di luar komplek elit tersebut.
Memutus Rantai Masalah Zonasi
Dalam sambutannya, KDM mengungkapkan, jumlah lulusan SMP di Bogor mencapai 113 ribu orang, sementara daya tampung sekolah negeri hanya 26 ribu. “Alhamdulillah, hari ini kita meresmikan SMAN 3 Jonggol yang berada di Kelurahan Singajaya, Kecamatan Jonggol, tepatnya di kawasan Citra Indah,” ujar Dedi dalam sambutannya.
KDM menegaskan bahwa pembangunan SMAN 3 Jonggol adalah langkah strategis untuk memecah kepadatan pendaftar di SMAN lain yang selalu membludak di setiap musim PPDB.
“Pendidikan tidak boleh eksklusif. Kita bangun di sini karena pertumbuhan penduduk di Jonggol sangat pesat. Jangan sampai ada anak Jonggol yang tidak sekolah hanya karena kalah jarak zonasi beberapa meter saja” tegas KDM di hadapan para tokoh masyarakat dan pejabat disdik.
Gedung yang mulai dibangun sejak Juli 2025 ini kini berdiri megah di atas lahan fasum seluas 4 hektar. Fasilitasnya pun tak main-main, mulai dari ruang kelas, ruang guru, ruang kelas digital hingga sarana sanitasi modern yang diklaim sebagai standar baru sekolah negeri di Jawa Barat.
Kegiatan belajar mengajar pun telah berjalan sejak awal tahun 2026. Menariknya, lokasi sekolah yang berada di dalam kawasan hunian menjadi nilai tambah tersendiri. Citra Indah City sebagai kawasan terpadu telah menghadirkan berbagai fasilitas, termasuk pendidikan, yang memudahkan aktivitas penghuninya.

Antara Harapan dan Kritik
Meski disambut baik, langkah KDM menaruh sekolah negeri di dalam kawasan perumahan besar tetap memicu diskusi di media sosial. Beberapa pihak menganggap ini adalah solusi cerdas untuk memanfaatkan lahan pengembang, sementara yang lain mengkhawatirkan adanya “privatisasi” akses secara halus.
Namun, KDM menepis anggapan tersebut dengan menyatakan bahwa sistem transportasi publik menuju sekolah akan segera dibenahi agar siswa dari desa-desa sekitar seperti Singajaya dan sekitarnya tetap bisa menjangkau lokasi dengan mudah.
Dengan hadirnya SMAN 3 Jonggol, masyarakat kini memiliki alternatif sekolah negeri yang lebih dekat, tanpa harus menempuh jarak jauh.
Kehadiran SMAN 3 Jonggol sekaligus memperkuat posisi Jonggol sebagai kawasan yang terus berkembang. Dukungan infrastruktur, perhatian pemerintah, serta pertumbuhan hunian yang konsisten menjadi indikator bahwa kawasan ini tidak lagi sekadar memiliki potensi, tetapi sudah bergerak menuju perkembangan nyata.
Kesimpulan
Peresmian SMAN 3 Jonggol oleh KDM hari ini bukan sekadar seremoni gunting pita, melainkan simbol pergeseran pembangunan infrastruktur pendidikan ke wilayah penyangga. Dengan fasilitas yang mumpuni, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa sekolah ini benar-benar inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat Jonggol, bukan hanya bagi mereka yang tinggal di balik gerbang perumahan mewah. (YSM)









Apa Komentar kamu swaps ?