DENPASAR, SWAPNEWS.CO.ID — Publikasi terbaru Forbes Real-Time Billionaires mencatat sedikitnya 3.378 tokoh masuk dalam jajaran miliarder dunia, termasuk sederet taipan terkemuka asal Indonesia. Mengacu pada data per Senin, 19 Oktober 2026, peta kekuatan ekonomi para konglomerat Tanah Air masih didominasi oleh pelaku industri perbankan, energi, petrokimia, hingga pusat data digital.
Daftar 10 Orang Terkaya Indonesia per Oktober 2026
DENPASAR, SWAPNEWS. CO. ID — Publikasi terbaru Forbes Real-Time Billionaires mencatat sedikitnya 3. 378 tokoh masuk dalam jajaran miliarder dunia, termasuk…

Yang perlu Anda ketahui
DENPASAR, SWAPNEWS. CO. ID — Publikasi terbaru Forbes Real-Time Billionaires mencatat sedikitnya 3. 378 tokoh masuk dalam jajaran miliarder dunia, termasuk…
Budi Hartono tercatat kembali menempati peringkat pertama sebagai orang terkaya di Indonesia dengan nilai kekayaan bersih mencapai USD 14,4 miliar. Capaian tersebut sekaligus mengukuhkan posisinya di urutan ke-252 dalam daftar orang terkaya sejagat.
Tepat di bawah Budi Hartono, taipan energi dan petrokimia Prajogo Pangestu menduduki peringkat kedua dengan total kekayaan USD 10,8 miliar, disusul oleh pengusaha batu bara Low Tuck Kwong di posisi ketiga dengan kekayaan senilai USD 10,4 miliar. Sementara itu, pucuk pimpinan Salim Group, Anthoni Salim, bertengger di posisi keempat dengan valuasi harta mencapai USD 9,7 miliar.
RINCIAN 10 ORANG TERKAYA DI INDONESIA PER OKTOBER 2026
Berikut adalah profil dan portofolio bisnis 10 orang terkaya di Indonesia berdasarkan data Forbes Real-Time Billionaires per 19 Oktober 2026:
1. Budi Hartono (USD 14,4 Miliar)
Menempati posisi puncak di Indonesia sekaligus peringkat ke-252 dunia, Budi Hartono bersama saudaranya, Michael Hartono, dikenal sebagai duet pengusaha paling berpengaruh di Tanah Air. Sumber kekayaan utama keduanya berasal dari kepemilikan saham mayoritas di PT Bank Central Asia Tbk (BCA), di mana valuasi harta masing-masing dicatat secara terpisah.
Keluarga Hartono mengambil alih kendali BCA setelah keluarga Salim melepas kepemilikannya akibat dampak krisis finansial Asia pada periode 1997-1998. Sebelum merajai sektor perbankan, fondasi bisnis keluarga ini dibangun melalui industri tembakau yang hingga kini masih menjadi salah satu produsen rokok kretek terbesar di Indonesia.
Di luar sektor keuangan dan tembakau, grup bisnis keluarga Hartono merambah industri teknologi, properti premium di Jakarta, hingga manufaktur elektronik lewat merek Polytron. Pada 2022, mereka membawa perusahaan induk e-commerce Blibli, PT Global Digital Niaga Tbk, melantai di bursa saham melalui penawaran umum perdana (IPO) yang meraup dana segar sebesar USD 510 juta. Selanjutnya pada 2025, Polytron resmi melakukan ekspansi ke industri otomotif ramah lingkungan dengan meluncurkan dua model mobil listrik di pasar domestik.
2. Prajogo Pangestu (USD 10,8 Miliar)
Berada di urutan kedua dengan kekayaan USD 10,8 miliar, putra seorang pedagang karet ini merintis karier bisnisnya di sektor perkayuan pada penghujung dekade 1970-an. Ia mendirikan Barito Pacific Timber yang melantai di bursa saham pada 1993, sebelum bertransformasi menjadi Barito Pacific pada 2007 seiring pengurangan porsi bisnis kayu.
Pada tahun yang sama, Barito Pacific mengakuisisi 70 persen saham perusahaan petrokimia Chandra Asri. Langkah strategis berlanjut pada 2011 ketika Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia untuk membentuk produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Tanah Air, yang kemudian diikuti masuknya perusahaan minyak Thailand, Thaioil, sebagai pemegang 15 persen saham.
Grup usaha Prajogo terus berekspansi ke sektor tambang batu bara dan energi hijau. Pada 2023, ia mengantarkan dua entitas usahanya, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk dan PT Barito Renewables Energy Tbk, melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Aksi korporasi teranyar tercatat pada 2025 saat Chandra Asri memisahkan anak usahanya, Chandra Daya Investasi, untuk turut mencatatkan saham di BEI.
3. Low Tuck Kwong (USD 10,4 Miliar)
Dijuluki sebagai raja batu bara Indonesia, Low Tuck Kwong menempati peringkat ketiga dengan total kekayaan USD 10,4 miliar. Pengusaha kelahiran Singapura ini merupakan pendiri PT Bayan Resources Tbk, salah satu raksasa pertambangan batu bara di Tanah Air.
Low mengawali kiprahnya di perusahaan konstruksi milik sang ayah di Singapura saat berusia remaja sebelum memutuskan hijrah ke Indonesia pada 1972 demi menangkap peluang usaha yang lebih luas. Pada Agustus 2024 lalu, ia tercatat mengalihkan kepemilikan saham Bayan Resources senilai USD 6,6 miliar kepada putrinya, Elaine.
Selain Bayan Resources, Low mengendalikan perusahaan energi terbarukan asal Singapura, Metis Energy (dahulu Manhattan Resources), serta memiliki portofolio investasi di The Farrer Park Company dan Samindo Resources. Ia juga menanamkan modal di SEAX Global, pengembang infrastruktur kabel bawah laut untuk konektivitas internet lintas negara yang menghubungkan Indonesia, Singapura, dan Malaysia.
4. Anthoni Salim (USD 9,7 Miliar)
Menempati peringkat keempat dengan harta USD 9,7 miliar, Anthoni Salim merupakan nakhoda Salim Group yang menggurita di sektor pangan, ritel, perbankan, telekomunikasi, hingga sumber daya energi. Putra bungsu dari tiga bersaudara mendiang pendiri grup usaha Liem Sioe Liong ini juga menjabat sebagai CEO Indofood, salah satu produsen mi instan terbesar di dunia.
Secara regional, keluarga Salim menggenggam saham perusahaan investasi First Pacific yang tercatat di Bursa Hong Kong dengan portofolio bisnis mencakup Indofood serta raksasa telekomunikasi Filipina, PLDT. Di sektor komoditas dan pertambangan nasional, Anthoni Salim turut memiliki kepemilikan saham strategis di Bumi Resources, Medco Energi, serta Amman Mineral.
5. Sri Prakash Lohia (USD 8,6 Miliar)
Posisi kelima ditempati oleh Sri Prakash Lohia dengan kekayaan bersih USD 8,6 miliar yang bersumber dari industri petrokimia, pupuk, dan polimer. Ia bermigrasi dari India ke Indonesia bersama ayahnya pada era 1970-an dan mendirikan Indorama Corp. yang kala itu memproduksi benang pintal.
Kini, Indorama Corp. telah menjelma menjadi raksasa industri hulu yang memproduksi pupuk, poliolefin, bahan baku tekstil, hingga sarung tangan medis. Sri Prakash Lohia masih menjabat sebagai Chairman Indorama Corp. didampingi putranya, Amit Lohia, selaku Wakil Ketua, di mana keduanya berdomisili di London, Inggris. Sementara itu, adiknya yang bermukim di Thailand, Aloke Lohia, juga berstatus miliarder sebagai pemimpin Indorama Ventures, produsen polimer PET berskala global.
6. Tahir dan Keluarga (USD 8,6 Miliar)
Memiliki valuasi kekayaan setara di angka USD 8,6 miliar, Tahir beserta keluarganya menduduki posisi keenam. Pendiri Mayapada Group ini mengelola portofolio bisnis yang merentang dari sektor perbankan, jaringan rumah sakit, media, hingga properti.
Melalui berbagai entitas terbuka, keluarga Tahir menguasai saham Bank Mayapada serta Maha Properti Indonesia, ditambah deretan aset properti komersial di Singapura melalui perusahaan tercatat MYP. Tahir sendiri merupakan menantu dari pendiri Lippo Group, Mochtar Riady, melalui pernikahannya dengan Rosy Riady.
7. Otto Toto Sugiri (USD 7,6 Miliar)
Geliat ekonomi digital mengantarkan pionir teknologi informasi Otto Toto Sugiri ke posisi ketujuh dengan kekayaan USD 7,6 miliar. Ia merupakan salah satu pendiri sekaligus CEO PT DCI Indonesia Tbk, operator pusat data (data center) terbesar di Tanah Air yang didirikan pada 2011 dan resmi melantai di BEI pada 2021.
Rekam jejak Sugiri di industri teknologi telah dimulai sejak 1989 saat mendirikan perusahaan perangkat lunak Sigma Cipta Caraka, yang kemudian diakuisisi oleh PT Telkom Indonesia Tbk dan berganti nama menjadi Telkomsigma. Pada 1994, ia juga turut melahirkan penyedia layanan internet perdana di Indonesia, Indonet, yang melantai di bursa pada 2021 sebelum akhirnya saham milik para pendiri dijual kepada perusahaan pusat data asal Singapura, Digital Edge, pada 2023.
8. Marina Budiman (USD 5,4 Miliar)
Menempati urutan kedelapan dengan kekayaan USD 5,4 miliar, Marina Budiman sekaligus menyandang predikat sebagai perempuan terkaya di Indonesia dalam daftar ini. Ia merupakan salah satu pendiri dan Presiden Komisaris PT DCI Indonesia Tbk yang dirintis bersama Otto Toto Sugiri serta Han Arming Hanafia pada 2011.
Karier profesional Marina bersinggungan erat dengan Sugiri sejak keduanya bekerja di Bank Bali pada 1985. Empat tahun berselang, ia bergabung dengan Sigma Cipta Caraka, ikut mendirikan Indonet pada 1994, hingga melepas kepemilikan sahamnya di Indonet kepada Digital Edge pada 2023.
9. Theodore Rachmat (USD 4,1 Miliar)
Akrab disapa Teddy, Theodore Rachmat berada di peringkat kesembilan dengan nilai kekayaan USD 4,1 miliar. Pendiri Triputra Group (1998) ini memiliki jaringan bisnis yang bergerak di bidang agribisnis, manufaktur, serta pertambangan. Ia juga tercatat memegang saham minoritas sekaligus menjabat sebagai Wakil Presiden Komisaris di perusahaan tambang PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (dahulu Adaro Energy).
Teddy mengawali perjalanan kariernya pada 1968 di perusahaan otomotif Astra International yang didirikan oleh pamannya, William Soeryadjaya, hingga dipercaya menduduki kursi CEO. Tongkat estafet bisnis keluarga kini turut dijalankan oleh kedua putranya, yakni Ariano Rachmat selaku Wakil Presiden Direktur dan Wakil CEO Alamtri Resources Indonesia, serta Arif Patrick Rachmat yang menjabat Chairman PT Triputra Agro Persada Tbk. Pada 2024 lalu, Alamtri Resources sukses memisahkan unit bisnis batu bara termalnya, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk, lewat skema IPO yang menghimpun dana USD 259 juta.
10. Sukanto Tanoto (USD 4,1 Miliar)
Melengkapi daftar sepuluh besar dengan kekayaan USD 4,1 miliar, Sukanto Tanoto merupakan pemilik konglomerasi Royal Golden Eagle (RGE) yang bermarkas di Singapura. Grup usaha multinasional ini mengelola industri pulp dan kertas, serat viskosa, kelapa sawit, hingga energi yang tersebar di Indonesia, China, Brasil, Kanada, Spanyol, dan Malaysia.
Perjalanan bisnis Sukanto berawal dari sebuah toko pemasok suku cadang sederhana bernama Toko Motor pada 1967. Kini, salah satu anak usahanya di Brasil, Bracell, dikenal sebagai produsen selulosa khusus terbesar di dunia untuk bahan baku tisu basah hingga es krim, berdampingan dengan grup APRIL yang memproduksi kertas serta karton. Ekspansi globalnya di industri tisu kian menguat usai mengakuisisi perusahaan tisu asal Brasil, OL Papeis, pada 2023, serta menjadikan produsen tisu bursa Hong Kong, Vinda, sebagai perusahaan tertutup melalui transaksi akuisisi senilai USD 3,3 miliar pada 2024.
Artikel ini dirangkum dan diolah kembali dari laporan Forbes.

Memuat komentar...