BEKASI. Swapnews.co.id – Yang Chil Seong lahir pada tanggal 29 Mei 1919 di Kabupaten Wanju, Provinsi Jeolla Utara, Korea. Pada masa penjajahan Jepang atas Korea, ia terkena wajib militer dan dikirim ke Pulau Jawa oleh pemerintah kolonial Jepang. Pada tahun 1942, ia ditugaskan sebagai penjaga kamp tahanan perang Sekutu di Bandung, Jawa Barat. Saat itu, baik Korea maupun Indonesia berada di bawah pendudukan Kekaisaran Jepang.
Bergabung dengan Gerilyawan Indonesia
Usai Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945 dan Perang Dunia II berakhir pada tahun 1945, Korea dan Indonesia sama-sama menyatakan kemerdekaan negaranya. Namun, alih-alih kembali ke tanah kelahirannya, Yang Chil Seong memilih untuk tetap tinggal di Indonesia.
Yang Chil Seong dan beberapa rekan Korea lainnya tergabung dengan pasukan Jepang pimpinan Masharo Aoki. Lewat suatu pertempuran di wilayah Majalaya (Kabupaten Bandung), pasukan tersebut berhasil ditawan oleh Pasukan Pangeran Papak, laskar yang berasal dari Garut.

Mereka kemudian dibawa ke Garut dan pada 1946 atas inisiatif Aoki mereka lantas memutuskan untuk bergabung dengan Pasukan Pangeran Papak pimpinan Mayor S.M. Kosasih yang bermarkas di Markas Besar Gerilya Galunggung (MBGG) dan berbasis di Wanaraja, Garut. Mereka terlibat dalam berbagai pertempuran melawan tentara Belanda, termasuk dalam peristiwa Bandung Lautan Api.
Ketika Belanda melancarkan agresi militer untuk kembali menguasai Indonesia, Yang Chil Seong bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia bersama dua orang mantan tentara Jepang yang juga tidak pulang ke negaranya, yakni Hasegawa (yang berganti nama menjadi Abubakar) dan Masahiro Aoki (dikenal sebagai Usman).
Mereka bertiga dikenal memiliki kemampuan dan strategi tempur yang sangat baik dan membentuk tim inti yang sangat aktif melakukan sabotase dan perlawanan. Mereka menjadi target utama buruan Belanda, dan kepala mereka dihargai mahal. Komarudin dikenal sebagai ahli perakit bom dan ranjau. Keahliannya ini sangat berharga dalam perang gerilya melawan Belanda yang memiliki persenjataan modern.
Dengan keahliannya merakit peledak, Yang Chil Seong dan dua rekannya, Masahiro Aoki dan Hasegawa, memimpin pasukannya untuk menghancurkan Jembatan Cimanuk di Wanaraja, Garut. Jembatan ini adalah jalur strategis yang akan digunakan pasukan Belanda untuk merebut wilayah tersebut dan membuktikan kepada Belanda bahwa perlawanan di Garut masih sangat kuat.
Tertangkap oleh tentara Belanda
Ketika Belanda menguasai Wanaraja (Garut) sebagai basis Pasukan Pangeran Papak, Yang Chil Seong dan kawan-kawannya melarikan diri ke wilayah pegunungan Galunggung. Di sana mereka membangun basis perlawanan yang baru. Pada 1948, PPP meleburkan diri dengan organ-organ laskar lainnya di Garut. Mereka lantas membentuk Markas Besar Gerilya Galunggung (MBGG) pimpinan Letnan Satu R. Djoeana Sasmita, yang bermarkas di Legok Dora, Gunung Galunggung.
Namun karena suatu pengkhianatan, pada 26 Oktober 1948, basis MBGG diserang secara mendadak oleh pasukan Belanda dari 3-14-RI dan berhasil menangkap Yang Chil Seong beserta tiga kawannya.
Setelah melalui pengadilan panjang di pengadilan militer Belanda, mereka dijatuhi hukuman mati karena dianggap melakukan aksi terorisme. Pada tanggal 21 Mei 1949, Yang Chil Seong, Hasegawa, dan Masahiro Aoki dieksekusi mati di Kerkhoff, Garut. Mereka dimakamkan di TPU Pasir Pogor, lalu tahun 1975 dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Tenjolaya, Garut sebagai simbol persahabatan sejati dan pengorbanan tanpa batas untuk Indonesia. Sementara itu, Letnan Satu R. Djoeana mendapat hukuman penjara seumur hidup di LP Cipinang, Jakarta.

Menurut kesaksian yang beredar, di detik-detik terakhir sebelum dieksekusi, Yang Chil Seong menolak tawaran Belanda untuk kembali hidup dengan dikirim pulang ke Korea. Ia justru berteriak lantang, “Merdeka!” beberapa kali, sebuah penghormatan tertinggi bagi tanah yang ia bela hingga akhir hayatnya.
Pengungkapan Identitas
Sebelumnya hanya ada sedikit informasi tentang kehidupan Yang Chil Seong di Indonesia. Informasi mengenai Yang Chil Seong yang berganti nama menjadi Komarudin ternyata merupakan orang Korea berhasil diungkap oleh peneliti Jepang bernama Utsumi Aiko. Utsumi berhasil mewawancarai teman-teman seperjuangan Yang Chil Seong yang masih hidup.
Pada bulan Juli 1995, pemerintah Indonesia dan perwakilan Korea Selatan mengadakan upacara penggantian batu nisan Komarudin secara militer. Sejak saat itu Komarudin dianggap sebagai salah satu tokoh pejuang yang berjasa bagi kemerdekaan Indonesia. (YSM)









Apa Komentar kamu swaps ?