JAKARTA. Swapnews.co.id – Papua sering disebut surga alam. Hutannya luas, lautnya indah, dan hewan-hewannya unik. Tapi, di balik keindahan itu, ada fakta yang bikin merinding: Papua adalah “zona merah” ular berbisa yang jauh lebih parah dari wilayah lain di Indonesia.
Coba bandingkan: dari semua jenis ular di Indonesia, hanya sekitar 10% yang berbisa sangat tinggi. Tapi kalau kita lihat di Papua, angkanya melonjak drastis. Sekitar 80% ular darat di Papua itu berbisa!
Ini beda jauh dengan Pulau Jawa, yang meskipun penduduknya padat dan sering kontak dengan ular, hanya punya sekitar 12 jenis ular yang berbahaya. Di Papua, potensi kematian per gigitan jauh lebih tinggi. Kenapa? Karena di sana banyak ular berbisa, lokasinya terpencil, dan yang paling kritis: tidak ada antivenom (obat penawar bisa) yang spesifik untuk jenis ular paling mematikan di sana.
Bayangkan, kalau digigit, kita punya “waktu emas” sekitar 30 menit untuk mendapat pertolongan pertama. Di pedalaman Papua, mencapai rumah sakit dalam waktu secepat itu seringkali mustahil. Makanya, gigitan ular berbisa di sana seringkali terasa seperti hukuman mati berbasis lokasi.
Mengenal Dua Ancaman “Ular Hitam Putih Papua”
- Micropechis ikaheka: Si Ular Darat Paling Menakutkan

Ular putih Papua
Ular ini dijuluki Senawan Tanah Irian atau “ular putih Papua”. Warga lokal sering menyebutnya ikaheka, yang artinya “belut darat” karena dia suka tinggal di tempat lembab seperti rawa, sungai kecil, atau tumpukan sampah vegetasi. Dia tersebar luas di seluruh Nugini hingga Raja Ampat.
Ular Putih Papua (๐๐ช๐ค๐ณ๐ฐ๐ฑ๐ฆ๐ค๐ฉ๐ช๐ด ๐ช๐ฌ๐ข๐ฉ๐ฆ๐ฌ๐ข) menghuni hutan tropis lebat dan lembap di Papua (Indonesia & Papua Nugini) dan pulau-pulau sekitarnya. Ular ini dapat tumbuh hingga 2,1 m ini bersifat nokturnal (aktif di malam hari) dan krepuskular (aktif di senja/fajar). Penampilannya cukup unik, tubuhnya berwarna putih pucat dengan mata kecil tersembunyi di wajahnya yang sempit.
Kekuatan Racunnya: Bisa ular putih Papua sangat mematikan. Racunnya menyerang saraf (neurotoksin) dan otot (miotoksin). Gejala parahnya termasuk kelumpuhan, kesulitan bicara, rahang kaku, dan gagal ginjal (urin bisa jadi gelap). Puncak bahayanya adalah kelumpuhan pernapasan, yang bisa terjadi 19 hingga 38 jam setelah digigit. Ular ini bertanggung jawab atas banyak kasus fatal di Papua.
Karena bisanya yang luar biasa mematikan, antibisa spesifik untuk ular ini masih belum ada. Banyak ahli menganggap ular ini lebih berbahaya daripada ular-ular berbisa tinggi lainnya seperti Kobra.
2. ULAR HITAM PAPUA

Ular hitam Papua
Ular Hitam Papua (๐๐ด๐ฆ๐ถ๐ฅ๐ฆ๐ค๐ฉ๐ช๐ด ๐ฑ๐ข๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด) adalah ular berbisa tinggi dari famili Elapidae yang berasal dari Pulau Papua (Indonesia & Papua Nugini). Spesies ini juga berada di wilayah Australia, tepatnya di Pulau Boigu dan Saibai di Selat Torres utara, lepas pantai Papua Nugini. Dengan panjang sekitar 2 m, ular ini didominasi warna hitam dengan bagian bawah berwarna abu-abu.
Ciri-cirinya: berbisa tinggi dari famili Elapidae, sebagian besar tubuhnya berwarna hitam dengan bagian bawah berwarna abu-abu dan bisa mencapai panjang sekitar 2 meter, bisanya mengandung neurotoksin, antikoagulan, dan hemoragik.
Gigitan dapat menyebabkan kelumpuhan otot dan kelemahan dalam hitungan jam, dengan tingkat kematian tinggi. Indonesia belum memproduksi antivenin spesifik, dan antivenin yang efektif harus diimpor dari Australia.
Bisa spesies ini yang paling kuat di antara semua anggota genus ular hitam ๐๐ด๐ฆ๐ถ๐ฅ๐ฆ๐ค๐ฉ๐ช๐ด. Tidak seperti ular hitam lainnya, bisa ular ini sebagian besar bersifat neurotoksik, yang dapat melemahkan otot dan menyebabkan kelumpuhan yang terjadi dalam 2 hingga 21 jam setelah digigit.
Hal ini dapat mengancam jiwa dan mungkin memerlukan intubasi. Bisa ular ini sedikit lebih kuat daripada Kobra Sumatra (๐๐ข๐ซ๐ข ๐ด๐ถ๐ฎ๐ข๐ต๐ณ๐ข๐ฏ๐ข) dan tiga kali lebih lemah daripada Taipan Pesisir (๐๐น๐บ๐ถ๐ณ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด ๐ด๐ค๐ถ๐ต๐ฆ๐ญ๐ญ๐ข๐ต๐ถ๐ด). (YSM)









Apa Komentar kamu swaps ?