JAKARTA. Swapnews.co.id – Menghadapi anak memberontak bisa menjadi tantangan besar bagi orangtua. Saat si Kecil mulai sering melawan, tidak mau mendengar nasihat, atau menunjukkan sikap keras kepala, wajar jika orangtua merasa khawatir dan bingung harus bersikap seperti apa.
Apa itu perilaku anak memberontak?
Anak memberontak atau anak rebel adalah kondisi seorang anak menunjukkan sikap menentang aturan, otoritas, atau harapan orangtua dan lingkungan sekitarnya.
Perilaku ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari membantah, marah, hingga tidak patuh terhadap peraturan yang diberikan. Perilaku mulai terlihat pada masa pra-remaja (10–13 tahun) dan mencapai puncaknya saat remaja (usia 14–18 tahun).
Pada fase pra-remaja, anak rebel mulai menunjukkan tanda-tanda ingin lebih mandiri, sering mempertanyakan aturan, dan menguji batasan yang diberikan oleh orangtua.
Saat memasuki usia remaja, perilaku ini bisa semakin kuat karena adanya perubahan hormon, tekanan sosial, dan pencarian jati diri.
Dalam beberapa kasus, perilaku memberontak yang berlebihan bisa menjadi tanda gangguan perilaku anak, seperti oppositional defiant disorder (ODD), yang ditandai dengan pola sikap menentang, sering berdebat, serta marah atau kesal tanpa alasan yang jelas.
Apa ciri anak memberontak? Anak cemas, sering membantah, sulit menerima aturan, mudah tersinggung, lebih cepat emosi, sulit mengendalikan amarahnya, sikap defensif, tiiak mau mengakui kesalahannya dan berperilaku agresif.

Apa penyebab anak remeja memberontak?
Melansir dari situs Sedona Sky Academy, berikut adalah beberapa penyebab remaja memberontak.
- Perkembangan otak
faktor perkembangan otak, terutama prefrontal cortex yang berperan dalam pengambilan keputusan. Mereka mulai membentuk idealisme dan membandingkan orangtua dengan standar ideal dari lingkungan, seperti teman atau media.
Hal ini membuat remaja merasa orangtua kurang memahami mereka, sehingga memicu konflik dan keinginan untuk memberontak.
- Pengaruh teman sebaya
Eksplorasi dan pengaruh lingkungan juga memicu perilaku memberontak pada remaja. Mereka menggunakan tren seperti body piercing, tato, atau musik sebagai bentuk ekspresi diri dan pembeda dari generasi sebelumnya.
Pengaruh teman sebaya juga kuat, dengan keinginan diterima dalam kelompok mendorong mereka melanggar aturan, termasuk aturan orangtua.
Lingkungan yang mendukung perilaku memberontak membuat mereka lebih cenderung menyebabkan memiliki sikap tersebut hingga terjerumus pada kenakalan remaja.
- Pencarian identitas
Remaja mencari identitas “siapakah aku sebenarnya?” dan kemandirian, sering kali melalui tindakan yang menentang norma sosial atau keluarga.
Ini adalah bagian alami dari perkembangan psikologis mereka. Selain itu, perkembangan emosi yang belum matang bisa membuat mereka bereaksi impulsif saat menghadapi tekanan atau frustrasi.
- Pola asuh yang salah
orangtua yang terlalu otoriter sering kali membuat anak merasa terkekang, sehingga mereka melawan untuk mendapatkan kebebasan.
Sebaliknya, pola asuh yang terlalu longgar juga dapat membuat anak tidak memahami batasan yang jelas, sehingga mereka bertindak sesuka hati.
- Pengaruh media sosial
Tayangan media televisi, film, musik, dan media sosial sering memiliki pengaruh besar terhadap perilaku remaja. Media sering kali menggambarkan pemberontakan sebagai sesuatu yang keren atau membanggakan.
Ketika melihat figur idola mereka melakukan tindakan pemberontakan, remaja cenderung meniru perilaku tersebut untuk mencari identitas atau mendapatkan “pengakuan” dari teman sebaya atau lingkungannya.
- Gangguan perilaku
Pada beberapa anak, perilaku memberontak bukan sekadar fase perkembangan, melainkan bagian dari gangguan perilaku seperti oppositional defiant disorder (ODD).
Anak dengan ODD cenderung menunjukkan pola perilaku menentang yang ekstrem, sering berdebat, marah, atau sulit mengontrol emosi mereka.

Bagaimana cara menghadapi anak yang suka memberontak?
- Pahami bahwa pemberontakan adalah hal wajar
Anak remaja sedang mencari jati diri dan menguji batas mereka. Sikapi dengan pengertian, bukan kemarahan dan pastikan mereka tahu bahwa anda selalu mendukung dan siap memberi nasihat serta empati kapan pun dibutuhkan.
- Tunjukkan bahwa Anda juga manusia
Jelaskan bahwa perilaku mereka bisa menyakiti perasaan anda, tetapi hindari manipulasi emosional karena remaja mudah menyadarinya. Bangun komunikasi yang baik dengan anak dan bertukar pikiran, pendapat serta perasaan tanpa langsung menghakimi.
- Hargai dan apresiasi mereka
Remaja ingin diperlakukan seperti orang dewasa. Berikan pujian atas perilaku baik mereka dan hindari komentar negatif tentang penampilan.
Biarkan mereka mengeksplorasi minat dan bakatnya tanpa harus merasa dikekang.
- Disiplin.
Berikan reward (hadiah) jika anak melakukan hal yang baik dan berikan punishment (hukuman) jika melakukan tindakan yang tidak atau kurang baik. Hal ini membuat remaja tahu akibat saat melewati aturan. Tentukan konsekuensi secara bersama agar tidak terjadi penolakan saat dirinya melanggar. Penting untuk menuliskannya, sehingga anak sepenuhnya sadar jika semua konsekuensi yang dibuat juga atas persetujuannya.
- Jangan membanding-bandingkan
Terus-menerus membandingkan anak remaja dengan saudara kandung atau teman-temannya dapat merusak konsep aktualisasi dirinya dan membuatnya menjadi semakin memberontak karena alasan ini.
- Jadi contoh yang baik
Perlu diingat bahwa perilaku anak merupakan cerminan orangtua, jadi pastikan Anda memberikan contoh perilaku yang baik dalam menghadapi masalah.
Oleh karena itu, Jika Anda marah, tunjukkan cara mengelola emosi dengan baik, seperti menarik napas dalam dan berbicara dengan tenang.
- Hindari hukuman fisik
Hukuman fisik yang berlebihan seperti memukul anak, hanya akan membuatnya semakin melawan. Lebih baik gunakan pendekatan disiplin yang positif, seperti sistem penghargaan atau menghukum anak yang tepat sesuai dengan usianya.
- Arahkan ke aktivitas yang positif
Preferensi anak remaja biasanya sangat bergantung pada public image dan teman-temannya. Tendensi ini bisa jadi jalan pintas yang bisa digunakan orang tua. Gunakan keinginan anak untuk tampil keren di depan teman-temannya dengan mengarahkannya ke hal-hal yang positif.
Misalnya, tampak pintar karena memiliki kemampuan bilingual adalah salah satu keinginannya. Maka orang tua bisa memasukan anak ke tempat kursus bahasa.
- Habiskan waktu bersama anak
Anak yang merasa dekat dengan orangtuanya lebih mudah diarahkan dan lebih terbuka dalam berkomunikasi. Sebagai contoh, Anda bisa mengajak anak melakukan kegiatan yang disukainya, seperti memasak bersama atau bermain game bersama.
Kesimpulan
Menghadapi anak yang memberontak adalah tantangan bagi orangtua, tetapi perilaku ini merupakan bagian dari proses tumbuh kembang yang wajar, terutama pada masa remaja. Tetapi perilaku ini bila dibiarkan tanpa penanganan yang tepat bisa berdampak negatif.
Pemberontakan bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti faktor perkembangan otak, pengaruh teman sebaya, pencarian identitas, pola asuh, efek media sosial, dan dalam beberapa kasus, gangguan perilaku seperti ODD.
Orangtua perlu memahami penyebabnya dan menerapkan cara-cara yang bijak dalam menghadapinya. Dengan membangun komunikasi yang baik, memberikan apresiasi, menjadi teladan yang baik, serta menghindari hukuman fisik bisa membuat anak berpikir ulang untuk melakukan pemberontakan. (YSM)









Apa Komentar kamu swaps ?