BOGOR. swapnews.co.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi peningkatan potensi hujan di sebagian wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan. Sementara kondisi cuaca panas di sejumlah wilayah Indonesia mulai menurun dibandingkan dengan sepekan sebelumnya.
“Selama sepekan ke depan, pertumbuhan awan hujan yang signifikan berpotensi terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia,” terang BMKG dalam rilis prospek cuaca mingguan, seperti dilansir dari laman resminya, Sabtu (25/10/2025).
Kondisi ini dipicu oleh interaksi berbagai faktor atmosfer skala global, regional, hingga lokal, yang mempertahankan atmosfer berada dalam kondisi labil dan mendukung perkembangan awan konvektif.
Aktivitas atmosfer tersebut berpotensi menghasilkan hujan dengan intensitas bervariasi, mulai dari ringan hingga lebat. Pada skala global, BMKG menyebut indikator Dipole Mode Index (DMI) saat ini menunjukkan nilai negatif sebesar −1.27.
Ini mengindikasikan peningkatan suplai uap air dari Samudra Hindia menuju wilayah Indonesia bagian barat sehingga mendukung pembentukan awan hujan di kawasan tersebut.
Faktor lainnya yakni terpantau Madden-Jullian Oscillation (MJO) di sebagian besar wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Jawa mengindikasikan tingginya konvektivitas di wilayah tersebut.
Selain itu, aktivitas Gelombang Rossby Ekuator yang diprediksi aktif memberikan potensi peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah yang dilaluinya.
Gelombang atmosfer ini berpropagasi ke arah barat diprediksi aktif di Samudra Hindia barat daya Banten hingga selatan NTB dan Samudra Pasifik sebelah timur laut Papua.
Fenomena lain yang turut mempengaruhi kondisi cuaca di Indonesia adalah Sirkulasi Siklonik yang terpantau dibeberapa wilayah perairan Indonesia.
Seperti di Laut Andaman, Laut Natuna Utara, Laut Cina Selatan, Laut Sulu, Kalimantan, dan Laut Maluku.
Fenomena tersebut membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) memanjang di Teluk Thailand, di Laut Natuna, dari Laut Natuna hingga Laut Sulu, di Selat Malaka, dari Kalimantan Timur hingga Laut Sulawesi, dari Maluku hingga Maluku Utara, dan dari perairan utara Maluku Utara hingga Laut Seram.
Daerah konvergensi lainnya memanjang dari Jawa Timur hingga perairan utara Jawa Tengah, di perairan selatan Bali hingga Jawa Timur, dari Laut Jawa hingga Kalimantan Timur, di Laut Sulawesi, dan dari Papua pegunungan hingga Papua Barat Daya.
Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut.
Sementara itu, labilitas atmosfer lokal yang mendukung proses konvektif dan pembentukan hujan diprediksi terjadi di sejumlah wilayah.
Beberapa daerah yang perlu mewaspadai hujan sedang hingga lebar disertai petir dan angin kecang, di antaranya:
– Sumatera: Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau
– Jawa dan Bali: Sebagian besar Pulau Jawa dan Bali
– Kalimantan: Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan
– Sulawesi: Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan
– Maluku dan Papua: Maluku Utara, Maluku, dan sebagian besar Kepulauan Papua
Dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem dalam beberapa waktu ke depan, BMKG mengimbau masyarakat untuk:
- Waspada terhadap cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu, seperti hujan lebat yang disertai angin kencang dan petir.
- Menjauhi wilayah terbuka ketika terjadi hujan yang disertai petir, serta menjauhi pohon, bangunan dan infrastruktur yang sudah rapuh ketika terjadi hujan yang disertai angin kencang.
- Tetap gunakan tabir surya dan cukupi asupan cairan tubuh, karena cuaca terik dapat terjadi sewaktu-waktu pada masa peralihan.
- Siap siaga menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, yang dapat terjadi kapan saja.
- Memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG, seperti situs web http://www.bmkg.go.id, media sosial @infobmkg, atau aplikasi infoBMKG. (YSM)









Apa Komentar kamu swaps ?