Swapnews.co.id Jakarta, 1965. Kota itu membara. Darah tumpah di lubang buaya, mahasiswa turun ke jalan, dan inflasi mencekik leher rakyat. Sejarah resmi mencatat ini sebagai konflik ideologi: Komunis melawan Agamis, PKI melawan Angkatan Darat.
Namun, jika kita menggeser lensa dari Jakarta ke pedalaman Papua yang sunyi, kita akan menemukan motif yang jauh lebih dingin dan berkilau: Gunung Ertsberg.
Sementara para jenderal diculik dan Soekarno digerogoti kekuasaannya, di seberang samudra, para eksekutif Freeport Sulphur sedang menahan napas. Mereka tahu satu hal yang rakyat Indonesia tidak tahu: di Papua, tersimpan harta karun terbesar di muka bumi. Dan hanya ada satu penghalang untuk mengambilnya: Ir. Soekarno.
Babak I: Penemuan yang “Disembunyikan” (1936-1959)
Jauh sebelum 1965, seorang geolog Belanda, Jean-Jacques Dozy, menemukan sebuah gunung aneh di Papua pada 1936. Ia menamakannya Ertsberg (Gunung Bijih). Laporannya terkubur debu Perang Dunia II.
Dua dekade kemudian, Forbes Wilson, petinggi Freeport, menemukan kembali laporan itu. Ia melakukan ekspedisi rahasia dan terperangah. Itu bukan sekadar gunung batu. Itu adalah gunung tembaga, dan di bawahnya—meski saat itu belum sepenuhnya terungkap—tersimpan cadangan emas terbesar di dunia (Grasberg).
Wilson tahu, ini adalah “jackpot” korporasi abad ini.
Babak II: Tembok Bernama Soekarno
Hasrat Freeport menabrak tembok beton. Soekarno bukan pemimpin yang bisa disuap dengan recehan.
Visinya tentang Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri) bukan sekadar jargon. Soekarno menolak mentah-mentah model investasi asing yang merugikan. Baginya, kekayaan alam adalah harga diri.
“Biarlah kekayaan alam kita tetap tersimpan di perut bumi, hingga insinyur-insinyur Indonesia sendiri mampu mengolahnya.” — Soekarno.
Bagi Washington dan Wall Street, sikap ini bukan nasionalisme. Ini adalah ancaman. Soekarno menutup pintu bagi “pesta raya” kapitalisme global di Asia Tenggara. Maka, pintu itu harus didobrak paksa.
Babak III: Karpet Merah di Atas Darah (1965-1967)
Apa yang terjadi selanjutnya adalah sebuah kebetulan yang terlalu presisi untuk disebut takdir.
- Oktober 1965: G30S meletus. Politik Indonesia kacau balau. Fokus Soekarno terpecah.
-
Maret 1966: Supersemar keluar. Soekarno kehilangan kendali eksekutif. Soeharto naik panggung.
-
Januari 1967: Di tengah transisi kekuasaan yang belum tuntas, pemerintahan baru dengan kilat mengesahkan UU Penanaman Modal Asing (PMA). Draf undang-undang ini sangat liberal, sebuah anomali bagi negara yang baru lepas dari kolonialisme.
Siapa yang diuntungkan?
Babak IV: Tanda Tangan Pertama
Hanya tiga bulan setelah UU PMA disahkan, pada April 1967, kontrak bersejarah itu terjadi.
Bukan kontrak pangan untuk rakyat yang kelaparan. Bukan kontrak tekstil.
Kontrak investasi asing pertama (Kontrak Karya Generasi I) yang ditandatangani oleh rezim Orde Baru adalah: Freeport Sulphur.
Saat Soekarno masih hidup dalam tahanan rumah, menatap langit-langit Wisma Yaso dengan hati remuk, Freeport sudah mulai membongkar tanah Papua. Mereka mendapat konsesi 30 tahun, kebebasan pajak, dan hak mengeruk gunung yang dijaga mati-matian oleh Soekarno.
KESIMPULAN: Harga Sebuah Tanda Tangan
Kejatuhan Soekarno seringkali dibingkai dalam narasi “Penyelamatan Pancasila”. Namun, data ekonomi bercerita lain.
Kejatuhan Soekarno adalah “Grand Opening” bagi masuknya korporasi multinasional ke Indonesia. Papua adalah hadiah utamanya. Soekarno tidak tumbang hanya karena komunisme; ia tumbang karena ia berdiri di antara sebuah korporasi raksasa dan gunung emasnya.
Darah tahun 1965 adalah tinta merah yang dipakai untuk menulis kontrak Freeport 1967. Dan sampai hari ini, lubang raksasa di Papua adalah monumen bisu dari peralihan kekuasaan tersebut.****









Apa Komentar kamu swaps ?