Menu

Mode Gelap

Gadget · 11 Oct 2025 WIB

Gawat! WhatsApp Mau Bikin Fitur ‘Anti-Dicuekin’


					Fitur Baru Whatapp yang Sedang Diuji Coba Perbesar

Fitur Baru Whatapp yang Sedang Diuji Coba

JAKARTA. swapnews.co.id – Siapa yang tidak pernah merasa kesal karena menerima chat promosi bertubi-tubi dari nomor asing di aplikasi chat seperti whatsapp atau aplikasi lainnya? Atau, lebih parah, pesan berantai hoaks yang dikirimkan oleh akun tak dikenal?

Well, WhatsApp, di bawah naungan Meta, sepertinya sudah mencapai titik didih dalam memerangi “sampah digital” (spam) dan kabar bohong. Kabar terbaru yang sedang diuji coba secara global—dan ini cukup gila—adalah rencana pembatasan jumlah pesan yang bisa dikirim seseorang (terutama akun bisnis) ke kontak yang sama jika pesan itu tidak pernah dibalas.

Ini bukan lagi soal broadcast massal. Ini adalah kebijakan yang menyerang akar dari komunikasi digital itu sendiri: respons.

Ancaman Terhadap ‘Spammer’ dan Pengguna Biasa

Secara harafiah, WhatsApp sedang menguji sistem quota bulanan. Apa intinya? Jika Anda mengirimkan pesan ke nomor yang tidak Anda kenal, dan nomor itu memilih untuk mengacuhkan atau tidak membalas pesan Anda, maka pesan tersebut akan dihitung sebagai “pelanggaran.”

Setelah mencapai batas maksimal, Anda tidak bisa lagi mengirim pesan ke nomor tersebut sampai orang itu membalas pesan Anda sebelumnya.

Dalam bahasa sehari-hari: WhatsApp akan “memaksa” Anda untuk berhenti menge-chat seseorang yang sudah jelas-jelas tidak tertarik berkomunikasi dengan Anda. Jika Anda tetap ngeyel mengirim pesan beruntun tanpa balasan, Anda akan kehabisan “jatah chat.”

Kebijakan ini, yang sedang diuji coba di berbagai negara (termasuk pasar raksasa seperti India), memiliki dua dampak utama:

Memukul Akun Bisnis Nakal (dan Penipu): Ini adalah target utama. Akun-akun yang menyalahgunakan platform untuk spamming atau kampanye penipuan (scamming) otomatis akan lumpuh karena penerima pesan mereka pasti tidak akan membalas. Tujuan mulianya adalah menjaga etika dan keamanan digital.

Efek Samping ke Pengguna Biasa (Tapi Ngeyel): Jika Anda termasuk orang yang sering ‘sok kenal’ atau mengirim pesan ke banyak calon klien baru tanpa tanggapan, Anda bisa terhambat. Bahkan, ini bisa memicu debat etika: Apakah akun saya bisa diblokir hanya karena pesan saya dicuekin?

Membaca Pikiran Intelektual Meta: Antara Privasi dan User Experience

Keputusan Meta untuk menerapkan quota ini menunjukkan evolusi cara mereka mengendalikan platform. Di mata para jurnalis dan analis teknologi, langkah ini adalah perwujudan dari prinsip “Privasi by Default” dan “Kualitas Komunikasi Lebih Penting daripada Kuantitas.”

Selama ini, tool utama WhatsApp melawan spam adalah dengan membatasi pesan broadcast (mengirim satu pesan ke banyak orang). Namun, spammer cerdas selalu mencari celah dengan mengirim pesan satu per satu. Pembatasan berbasis respons penerima adalah pendekatan yang lebih canggih dan agresif.

Implikasi yang lebih dalam: Kebijakan ini secara halus mendefinisikan aktivitas yang sah di WhatsApp. Jika Anda mencoba menjangkau seseorang, platform menuntut adanya timbal balik (engagement) yang nyata (balasan), bukan hanya sekadar pesan terkirim. Jika tidak ada balasan, itu sinyal bahwa pesan Anda tidak diinginkan, dan platform akan turun tangan membatasi Anda.

Meskipun WhatsApp mengklaim kebijakan ini tidak akan berdampak besar pada pengguna biasa (yang chat-nya pasti dibalas teman), kita perlu skeptis. Dunia digital kita semakin abu-abu. Bagaimana dengan jurnalis yang harus menghubungi narasumber baru yang belum dikenal? Atau, bagaimana dengan marketing yang sah yang mencoba menjangkau pelanggan potensial? Mereka semua berpotensi terjerat dalam “jebakan” chat tanpa balasan ini.

Pada akhirnya, kita dipaksa untuk lebih selektif dalam memilih kepada siapa kita mengirim pesan. Karena jika tidak, “jatah chat” Anda akan habis, dan Anda hanya bisa menunggu si penerima yang Anda ganggu berbaik hati membalas. Sebuah hukuman yang sangat digital. (YSM)

Artikel ini telah dibaca 23 kali

Apa Komentar kamu swaps ?

Baca Lainnya

GPT-5.2 Diluncurkan, OpenAI Klaim Tingkatkan Keandalan AI Korporasi

13 December 2025 - 19:04 WIB

OpenAI meluncurkan model AI terbaru GPT-5.2 untuk kebutuhan korporasi

Simon Petrus Dari Namibia Penemu Ponsel Tanpa Kartu SIM Dan Koneksi Internet

21 November 2025 - 15:44 WIB

Simon Petrus dari Namibia penemu ponsel tanpa kartu SIM dan koneksi internet

WhatsApp Resmi Hadir di Apple Watch: Baca dan Balas Pesan Langsung dari Pergelangan Tangan

11 November 2025 - 08:32 WIB

WhatsApp resmi tersedia di Apple Watch

ASAL USUL SUSHI: Dulunya Adalah ‘Ikan Busuk’ Buangan dari ASIA TENGGARA

12 October 2025 - 15:55 WIB

Sejarah SUSHI

Swift Membantai Objective-C: Revolusi iOS 2025 yang Mengancam Developer Lama!

7 October 2025 - 02:41 WIB

Bahasa pemrograman iOS 2025, dominasi Swift, kejatuhan Objective-C, dan kebangkitan Flutter serta React Native dalam ekosistem Apple.

Biznet Gio Tantang Raksasa Global! Luncurkan “NEO GPU” & “NEO Inference” untuk Dominasi Ekosistem AI Nasional!

6 October 2025 - 04:56 WIB

Biznet Gio AI Services NEO GPU NEO Inference
Trending di Bisnis
Home
Hot News
Trending
Instagram