JAKARTA. Swapnews.co.id – Bunuh diri adalah tindakan seseorang yang secara sengaja mengakhiri hidupnya sendiri. Bunuh diri bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti overdosis obat, gantung diri, menggunakan senjata, mencelakai diri di jalan raya, atau melompat dari tempat tinggi.
Bunuh diri merupakan manifestasi dari kesedihan mendalam, putus asa, atau rasa putus harapan yang mendalam pada diri seseorang.
Ini adalah masalah serius, yang memengaruhi individu dari berbagai latar belakang dan dapat memiliki dampak yang menghancurkan bagi keluarga dan masyarakat.
Beberapa Penyebab Bunuh Diri, antara lain:
- Masalah kesehatan mental
Depresi, gangguan bipolar, atau skizofrenia adalah beberapa jenis masalah kesehatan mental yang dapat menjadi pemicu utama bunuh diri. Individu yang mengalami gangguan mental sering kali menghadapi perasaan putus asa yang mendalam, serta sulit untuk menemukan harapan akan pemulihan.
- Tekanan emosional
Kehilangan orang yang dicintai, trauma, perceraian, atau mengalami kegagalan dalam hidup dapat menyebabkan tekanan emosional yang berat. Rasa putus asa yang diakibatkan oleh peristiwa-peristiwa tersebut, dapat mendorong seseorang untuk memilih bunuh diri sebagai cara untuk mengakhiri penderitaan dirinya.
- Merasa terisolasi
Rasa kesepian dan isolasi sosial juga dapat menjadi faktor pemicu bunuh diri. Ketika seseorang merasa terisolasi dan tidak memiliki dukungan sosial yang memadai, mereka merasa bahwa sudah tidak ada memiliki alasan untuk terus hidup.
- Riwayat keluarga bunuh diri
Ketika seseorang memiliki anggota keluarga yang melakukan bunuh diri, maka risiko mereka untuk melakukan hal yang sama, juga turut meningkat. Hal ini bisa disebabkan oleh faktor genetik, lingkungan keluarga yang tidak sehat, atau paparan terhadap perilaku bunuh diri.
- Mengalami pelecehan dan kekerasan
Pengalaman pelecehan fisik, seksual, atau emosional dapat meninggalkan luka yang dalam pada seseorang, serta menyebabkan rasa putus asa yang sangat mendalam.
- Tingkat stres yang tinggi
Akibat tekanan pekerjaan, masalah keuangan, atau konflik interpersonal, juga dapat menjadi faktor risiko bunuh diri. Ketidakmampuan untuk mengatasi stres, dapat membuat seseorang merasa putus asa dan seperti tak memiliki harapan.
- Penyalahgunaan zat
Penggunaan obat-obatan terlarang atau alkohol secara berlebihan dapat meningkatkan risiko bunuh diri. Penyalahgunaan zat dapat mengganggu keseimbangan kimia dalam otak dan memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan yang rasional.
Meskipun terasa seperti jalan keluar dari kesulitan hidup, tindakan tersebut hanya mengakhiri kehidupan seseorang tanpa menyelesaikan masalah yang ada. Beberapa alasan yang perlu dipahami mengapa bunuh diri bukanlah solusi:
- Masalah hanya sementara, kehidupan adalah proses
Perasaan sedih, putus asa, atau tekanan yang ada hanyalah sementara. Semua kondisi ini tentu saja akan berubah seiring waktu. Kehidupan merupakan proses yang penuh dengan dinamika. Jadi, akan selalu ada masalah yang datang maupun pergi.
Meskipun, tampaknya mustahil untuk diatasi, kamu harus yakin bahwa kondisi ini akan membaik seiring berjalannya waktu. Tetaplah berusaha dan jangan menyerah.
- Meninggalkan rasa sakit kepada orang lain
Bunuh diri tidak hanya mengakhiri rasa sakit seseorang, tetapi juga menciptakan rasa sakit yang mendalam bagi keluarga, teman, dan orang-orang yang peduli. Mereka yang ditinggalkan akan merasa bersalah, bingung, dan sangat terpukul oleh kehilangan. Hal ini bisa berdampak sangat besar dan memengaruhi orang lain seumur hidup mereka.

Keinginan Bunuh Diri
- Tidak memberikan peluang untuk perubahan
Bunuh diri hanya menutup semua kemungkinan untuk perubahan dan pertumbuhan pribadi. Banyak orang yang pernah merasa putus asa akhirnya menemukan cara untuk bangkit, melalui terapi, dukungan dari orang lain, atau perubahan kecil dalam kehidupan mereka.
- Kesulitan bisa diatasi dengan bantuan
Hampir semua masalah dalam hidup dapat dicari solusinya dengan bantuan, melalui dukungan sosial, konseling, atau perawatan medis. Tetapi, berbicara dengan seseorang yang peduli bisa memberikan sudut pandang baru dan membantu keluar dari perasaan tersebut.
- Kesehatan mental sangat bisa dipulihkan
Banyak orang yang mengalami perasaan ingin bunuh diri akhirnya pulih dengan pengobatan dan terapi yang tepat. Gangguan mental seperti depresi atau kecemasan yang sering menjadi pemicu perasaan ini dapat diobati dengan cara yang efektif. Tak sedikit yang pernah berada di titik terendah akhirnya merasa lebih baik setelah menjalani pengobatan atau terapi yang sesuai.
- Kehidupan penuh dengan potensi dan harapan
Setiap manusia punya potensi untuk mengalami perubahan positif dalam hidup. Terkadang hanya perlu waktu, dukungan, dan bantuan untuk menyadari bahwa ada harapan dan kesempatan baru.
- Tidak menyelesaikan masalah
Karena masalah hidup akan tetap ada, bahkan jika seseorang telah tiada. Pada kenyataannya, perasaan dan kesulitan yang dihadapi dapat diatasi dengan cara yang lebih efektif.
Gejala menandakan seseorang ingin bunuh diri, antara lain:
- Mengalami perubahan drastis dalam perilaku atau suasana hati. Mereka mungkin menjadi lebih tertutup atau lebih agresif dari biasanya.
- Tidak berdaya, malu, bersalah, atau tidak ada masa depan bisa membuat seseorang mempunyai perasaan negatif pada kondisi saat ini.
- Gangguan tidur berkepanjangan. Jika tidak segera diatasi, gangguan tidur berkepanjangan dapat memperparah gangguan mental (stres dan depresi) yang sudah ada dan memperkuat perasaan ingin bunuh diri.
- Cenderung menarik diri dari aktivitas sosial dan interaksi dengan orang lain. Mereka mungkin menghindari pertemuan dengan teman atau keluarga dan lebih memilih untuk menyendiri.
- Memberikan isyarat atau ungkapan langsung tentang keinginan untuk mati. Mereka bisa mengungkapkan perasaan putus asa atau tanpa harapan secara terbuka, kepada orang lain atau melalui sosial media.
- Mulai mempersiapkan diri dengan memberikan barang berharganya pada orang lain, menyusun surat-surat perpisahan, atau membuat rencana tentang cara mereka akan melakukan bunuh diri.
- Kehilangan minat dalam melakukan hal yang sebelumnya disukai.
- Mulai menunjukkan tanda-tanda keterikatan dengan kematian, seperti sering membicarakan tentang kematian atau menghabiskan waktu dengan mencari informasi tentang metode bunuh diri.
- Perilaku menyakiti diri sendiri Self-harm. Self-harm bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan, berkendara tanpa aturan, hingga terlibat dalam hubungan seks yang tidak aman.
- Orang yang mau bunuh diri tampak tidak peduli terhadap keselamatan dirinya sendiri atau bahkan orang lain. Mereka juga merasa bahwa hidup ini tidak ada artinya lagi.
Berikut beberapa mitos dan fakta bunuh diri, antara lain :
- Mitos: Orang yang membicarakan bunuh diri tidak akan benar-benar melakukannya; mereka hanya mencari perhatian (A cry for attention).
Fakta: TIDAK BENAR. Sebagian besar orang yang meninggal atau melakukan percobaan bunuh diri telah memberikan peringatan tentang niat mereka secara verbal (mengatakan “Saya ingin mati” atau “Dunia lebih baik tanpa saya”) atau melalui perubahan perilaku. Menganggapnya sebagai “cari perhatian” justru sangat berbahaya dan bisa melewatkan kesempatan untuk menyelamatkan nyawa.
- Mitos: Berbicara tentang bunuh diri kepada seseorang yang depresi akan memberikan ide dan mendorong mereka untuk melakukannya.
Fakta: TIDAK BENAR. Justru sebaliknya. Menanyakan secara langsung apakah seseorang memiliki pemikiran bunuh diri (“Apakah kamu sedang memikirkan untuk mengakhiri hidup?”) menunjukkan bahwa Anda peduli, memberi mereka izin untuk berbagi rasa sakit, dan mengurangi rasa isolasi yang mereka rasakan. Hal ini tidak “menanamkan” ide, melainkan membuka jalan untuk mencari bantuan.
- Mitos: Bunuh diri hanya terjadi pada orang yang memiliki gangguan jiwa berat (seperti Skizofrenia atau Bipolar).
Fakta: TIDAK BENAR. Meskipun gangguan mental (terutama depresi dan penyalahgunaan zat) adalah faktor risiko signifikan, bunuh diri adalah fenomena multi-faktorial. Banyak kasus bunuh diri terjadi pada orang yang tidak didiagnosis gangguan jiwa atau terjadi secara impulsif dalam momen krisis akibat kesulitan hidup yang ekstrem (masalah finansial, hubungan, atau kehilangan yang tiba-tiba).
- Mitos: Orang yang sudah memutuskan untuk bunuh diri tidak akan bisa dihentikan.
Fakta: TIDAK BENAR. Keinginan bunuh diri, bahkan yang kuat, seringkali bersifat sementara (transient) atau ambivalen—mereka ingin mengakhiri rasa sakit, bukan mengakhiri hidup. Intervensi tepat waktu, dukungan, dan penanganan profesional dapat secara efektif mencegah dan mengubah pikiran tersebut. Selalu ada peluang untuk membantu.
- Mitos: Setelah seseorang mencoba bunuh diri dan merasa lebih baik, risiko bahaya sudah lewat.
Fakta: TIDAK BENAR. Periode setelah krisis awal atau percobaan bunuh diri, terutama ketika energi psikis mulai kembali, justru merupakan masa risiko yang sangat tinggi untuk upaya kedua. Pemantauan dan dukungan profesional harus terus berlanjut.
- Mitos: Orang yang melakukan bunuh diri itu “lemah,” “egois,” atau “pengecut.”
Fakta: TIDAK BENAR. Bunuh diri adalah hasil dari penderitaan emosional dan psikologis yang intens yang dianggap tak tertahankan, bukan kelemahan moral atau karakter. Menggunakan label negatif seperti itu hanya meningkatkan stigma dan membuat korban serta penyintas (suicide attempt survivor) semakin enggan mencari bantuan.
- Mitos: Bunuh diri hanya disebabkan oleh satu faktor tunggal, seperti putus cinta atau kegagalan ujian.
Fakta: TIDAK BENAR. Bunuh diri selalu merupakan akumulasi dari berbagai faktor risiko (biologis, genetik, trauma masa lalu, kondisi kesehatan mental, dan faktor lingkungan) yang bertemu dengan stresor hidup (life stressors) tertentu. Masalah tunggal hanyalah pemicu terakhir, bukan penyebab tunggal.

BUNUH DIRI
Beberapa cara mengatasi depresi berat dan terhindar dari pikiran bunuh diri, yaitu :
- Jangan ragu untuk meminta bantuan psikolog atau psikiater
Langkah pertama yang penting dalam mengatasi depresi berat dan menghindari pikiran bunuh diri adalah dengan mencari bantuan profesional. Konseling dan terapi dapat membantu individu untuk mengidentifikasi penyebab depresi dan mengembangkan strategi untuk mengatasi masalah tersebut.
- Konsumsi obat antidepresan yang diresepkan psikiater
Setelah melakukan konsultasi medis, psikiater mungkin akan meresepkan sejumlah obat, salah satunya antidepresan. Mengonsumsi obat antidepresan dianggap paling efektif, khususnya bagi pengidap depresi sedang hingga berat.
Obat antidepresan akan diresepkan jika seseorang sudah mencoba terapi psikoterapi seperti terapi perilaku kognitif (CBT), tetapi belum berhasil atau belum ada perubahan. Obat ini bekerja dengan cara mengatur kadar neurotransmitter di otak seperti serotonin, noradrenalin dan domain, yang bisa memengaruhi suasana hati seseorang dan diharapkan keinginan untuk bunuh diri bisa berkurang.
Beberapa rekomendasi obat antidepresan yang kerap diresepkan oleh dokter, antara lain : Sertraline 50 mg Tablet, Sandepril 50 mg Tablet, Kalxetin 10/20 mg 10 Kapsul, Depram 10/20 mg Tablet, Fridep 50 mg 10 Tablet, Xiety 10 mg 10 Tablet, Brintellix 10 mg Tablet
- Mempelajari keterampilan untuk mengelola emosi
Belajar keterampilan untuk mengelola emosi seperti stres, kemarahan, dan kecemasan, sangat penting untuk dilakukan. Hal ini dapat membantu kamu untuk mengatasi perasaan putus asa yang muncul. Untuk mengelola emosi, kamu bisa coba teknik relaksasi, meditasi, dan keterampilan pernapasan. Selain itu, kamu bisa juga mencoba terapi musik, journaling, atau melakukan grounding di alam.
- Menerapkan gaya hidup sehat
Gaya hidup sehat memiliki dampak besar pada kesehatan mental seseorang. Pastikan kamu menerapkan pola makan seimbang, berolahraga secara teratur, dan memastikan tidur yang cukup, supaya kesehatan mental tetap terjaga, serta keinginan bunuh diri berkurang.
- Hindari menggunakan zat terlarang
Penggunaan obat-obatan terlarang atau alkohol dapat memperburuk gejala depresi dan meningkatkan pikiran bunuh diri. Oleh sebab itu, jangan pernah menggunakan zat tersebut dan segera mencari bantuan jika terlanjur mengalami kecanduan.
- Minta dukungan dari orang terdekat
Perhatian dari keluarga, teman, atau kelompok dukungan dapat memberikan dukungan emosional yang penting, dalam mengatasi depresi berat dan menghindari pikiran bunuh diri.
Jangan ragu untuk bicara dengan orang lain tentang perasaan dan pengalaman yang kamu alami. Jika pikiran sudah tak terbendung, berikut Pertolongan Pertama saat Memiliki Pikiran Bunuh Diri yang wajib kamu lakukan.
Hubungi Psikiater Ini Jika Anda atau Orang Terdekat Punya Keinginan Bunuh Diri (YSM)
Tes-tes tambahan untuk mengetahui seberapa sehat mental anda:
https://www.halodoc.com/depression-test/home









Apa Komentar kamu swaps ?