Menu

Mode Gelap

News · 1 Nov 2025 WIB

Bullying: Bukan Hanya Luka Fisik: Tekanan Mental Bisa Dirasakan Sampai Dewasa


					STOP BULLYING Perbesar

STOP BULLYING

BOGOR. swapnews.co.id – Dalam berbagai aspek kehidupan, baik di lingkungan pendidikan, tempat kerja, maupun dunia maya, fenomena “Bullying” terus menunjukkan peningkatan jumlah yang tidak hanya melukai fisik, tetapi juga menggerogoti mental dan moral individu.

Dalam banyak insiden, respons dari institusi yang terkait terbukti lamban, tidak adil, atau bahkan berusaha menutupi masalah, memperkuat narasi kegagalan sistemik untuk merespons secara cepat dan adil.

Sebuah studi global oleh Global Youth Violence Prevention, WHO dan UNESCO mengungkapkan bahwa bullying adalah salah satu bentuk kekerasan yang paling sering terjadi dan paling sulit diatasi di seluruh dunia. Di Indonesia, data dari KPAI menunjukkan bahwa sekitar 60% anak pernah mengalami bentuk bullying di sekolah mereka.

Bullying atau Perundungan adalah penggunaan kekerasan secara fisik dan psikologis jangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok, ancaman, atau pemaksaan untuk menyalahgunakan, mengintimidasi, atau secara agresif mendominasi orang lain yang tidak mampu mempertahankan dirinya.

Dampaknya menyebabkan korban tidak hanya mengalami tindakan kekerasan fisik, tekanan emosional, depresi, bahkan sampai berbuat ekstrem. Bullying juga memperlihatkan bentuk kekerasan verbal, sosial, maupun cyberbullying yang bisa berlangsung lama dan menimbulkan luka psikologis mendalam.

Menurut data dari National Institute of Mental Health (NIMH), anak-anak yang menjadi korban bullying memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan mental dan kesulitan berinteraksi sosial.

Jenis-Jenis Bullying

  1. Bullying verbal: Melibatkan kata-kata menyakitkan seperti menghina, mengancam, mengejek, mengolok-olok, pemanggilan nama kasar (misalnya menggunakan nama orang tua secara kasar) atau menyebarkan gosip. Kata-kata menyakitkan yang ditujukan untuk korban bisa menghancurkan harga diri dan citra diri korban, membekas di hati dalam waktu yang lama dan mempengaruhi kesehatan jiwa nya. Contoh: : “Main sendiri saja kamu, kamu kan miskin!”
  1. Bullying fisik: biasanya meninggalkan bekas luka di bagian tubuh (memar) dan kontak fisik atau merusak barang milik korban. Contoh: memukul, menendang, menjegal, mencubit, atau mendorong seseorang. Selain melukai tubuh, perusakan barang berharga juga termasuk bullying fisik yang dilakukan secara tidak langsung.
  1. Bullying sosial (relasional): Melibatkan perlakuan buruk yang ditujukan untuk merusak reputasi atau hubungan sosial korban. contoh: memfitnah atau menyebarkan gosip tentang seseorang, melontarkan lelucon untuk mempermalukan dan menghina orang lain, mendorong orang lain di sekitar untuk mengucilkan seseorang, sinis yang ditujukan untuk mengintimidasi secara halus.
  1. Bullying siber (cyberbullying): terjadi melalui media digital seperti media sosial, game online, dan platform lain yang menyediakan kolom interaksi. Contoh: mengirimkan teks, email, gambar, atau video yang isinya mengejek, mengancam, bernada kasar, berbau seksual, dan agresif. Mengucilkan seseorang di lingkup pertemanan online dengan sengaja. Menyebarkan kisah atau aib tentang seseorang di media sosial. Meniru orang lain dengan menggunakan foto dan informasi pribadi mereka. Mengunggah klip pribadi tanpa persetujuan dengan tujuan mempermalukan seseorang, seperti balas dendam porno.

Mengidentifikasi Korban Bullying

Banyak korban tidak memberi tahu orang lain karena takut atau terintimidasi dan menderita dalam keheningan.

Anak yang menjadi korban biasanya menampilkan beberapa karakteristik berikut :

  1. Tanda Fisik: biasanya yang paling mudah dikenali. Cari tanda seperti pakaian sobek, benjolan, goresan, patah tulang dan memar yang tidak mudah dijelaskan.
  2. Masalah Akademik: Menunjukkan penurunan pencapaian akademik akibat dari lambat berpikir, ketidakhadiran, bolos, takut pergi kemana-mana.
  3. Anak yang sering diejek tanpa henti dalam waktu yang lama dapat berubah menjadi pendiam, menarik diri, takut bertemu orang lain.
  4. Kadang menjadi pemarah (agresif), emosional (moody).
  5. Takut dan sangat waspada.
  6. Merasa terintimidasi
  7. Rendah diri.
  8. Tampak cemas dan tidak tenang.
  9. Sulit berkonsentrasi dan mudah lupa.
  10. Kurang kreatif dan inovatif, serta tidak teliti.
  11. Terlihat tidak memiliki teman dan tidak mau bergaul/bersosialisasi.
  12. Pakaian, alat elektronik, atau barang-barang pribadi lainnya hilang atau hancur.
  13. Seringkali meminta uang untuk alasan yang mungkin kurang jelas atau mencurigakan.
  14. Mencoba terus menerus ingin dekat orang dewasa.
  15. Tidak tidur nyenyak dan mungkin mengalami mimpi buruk
  16. Tiba-tiba sering mengeluh sakit kepala, sakit perut atau penyakit fisik lainnya.
  17. Sering tertekan setelah menghabiskan waktu online atau memainkan telepon genggam atau komputer (tanpa penjelasan yang masuk akal).
  18. Menjadi sangat rahasia, terutama dalam hal aktivitas online.

Faktor Penyebab Bullying

Ada sejumlah faktor penyebab bullying yang membuat seseorang rentan mengalami bullying maupun menjadi seseorang yang melakukan bullying, yaitu:

1. Penyebab jadi Korban Bullying

Ada beberapa penyebab yang membuat seseorang berisiko menjadi korban seperti: korban memiliki kekurangan dalam aspek fisik maupun psikologis sehingga merasa dikucilkan, kurang pandai dalam berkomunikasi, kurang mampu untuk membela diri, memiliki percaya diri yang rendah dan memiliki sedikit teman.

2. Penyebab jadi Pelaku Bullying

Kondisi yang berisiko meningkatkan anak menjadi pelaku bullying, seperti: memiliki kontrol diri yang rendah, ketidakdewasaan emosional, mempunyai trauma emosional, kebiasaan mengejek orang lain, kurangnya kepedulian terhadap orang lain, haus akan kekuasaan keterampilan sosial yang buruk, tidak memiliki perasaan bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan, melakukan bullying sebagai bentuk balas dendam, selalu ingin mengontrol dan mendominasi, kesalahan pola asuh, ingin popular dilingkungannya, tinggal di keluarga yang sering bertengkar dan melakukan kekerasan, bergaul dengan teman sebaya yang menjadi supporter atau penonton tindakan bullying, lemahnya pengawasan di sekolah.

Dampak Bullying

A. Bagi Korban: 

  1. Akademik: menurunnya prestasi belajar, menurunkan kemampuan analisis, memengaruhi fokus dan perhatian, hingga menurunkan produktivitas.
  2. Mental: trauma, kecemasan, gelisah, merasa takut setiap waktu, lebih mudah marah, hingga depresi kronis dan bahkan potensi untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap diri sendiri maupun orang lain. Korban memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan mental di masa dewasa,
  3. Gangguan hubungan sosial: hilangnya kepercayaan diri dan kesulitan untuk bersosialisasi
  4. Kesehatan fisik: sakit kepala, nyeri otot, sakit perut, perubahan berat badan, hingga penurunan imun tubuh yang berisiko meningkatkan beragam penyakit atau gangguan kesehatan.
  5. Penurunan kualitas hidup: penggunaan obat terlarang dan keinginan untuk melukai diri sendiri atau bunuh diri. Lebih dari itu, pengalaman traumatis ini dapat memperkuat siklus kekerasan dan menular ke generasi berikut, sehingga menimbulkan efek domino yang merusak fondasi sosial bangsa.
  6. Lebih dari itu, pengalaman traumatis ini dapat memperkuat siklus kekerasan dan menular ke generasi berikut, sehingga menimbulkan efek domino yang merusak fondasi sosial bangsa.

B. Bagi Pelaku:

  1. Berperilaku agresif dan impulsif.
  2. Memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang terlalu tinggi.
  3. Tidak takut untuk melakukan kekerasan.
  4. Berwatak keras.
  5. Selalu ingin mendominasi orang lain.
  6. Kurangnya rasa empati dengan orang lain.
  7. Dengan melakukan bullying, mereka merasa punya kekuasaan.
  8. Mudah marah.
  9. Berpotensi menjadi pelaku kriminal di kemudian hari.
  10. Bersikap kasar.
  11. Berisiko tersangkut masalah hukum

Bagaimana Cara Mencegah Bullying

  1. Ajari anak tentang bullying: berikan pemahaman mendalam tentang bullying. Pengetahuan ini penting agar mereka dapat mengenali dan menghindari perilaku ini.
  2. Bicaralah terbuka dan sering pada anak: Semakin sering anda berbicara dengan anak tentang bullying, semakin nyaman mereka memberi tahu Anda jika mereka melihat atau mengalaminya. Bicaralah dengan anak mengenai apa yang dianggap baik dan buruk.
  3. Bantu anak agar menjadi panutan yang positif: Ada tiga pihak yang terlibat dalam bullying: korban, pelaku, dan saksi. Bahkan jika anak-anak bukan korban bullying, mereka dapat mencegah bullying dengan bersikap positif, hormat, dan baik kepada teman sebayanya. Jika mereka menyaksikan bullying maka mereka dapat membela korban dan menawarkan dukungan atau bantuan.
  4. Membantu membangun kepercayaan diri anak: Dorong anak untuk mengikuti kegiatan yang ia sukai. Ini akan membantu membangun kepercayaan diri serta menambah teman dengan minat yang sama.
  5. Jadilah teladan: Tunjukkan pada anak cara memperlakukan orang lain dengan kebaikan dan rasa hormat, termasuk membela ketika orang lain diperlakukan dengan tidak baik. Anak melihat orang tua sebagai contoh bagaimana cara berperilaku.
  6. Jadilah bagian dari pengalaman online mereka: orang tua harus membiasakan diri dengan platform yang digunakan anak, jelaskan bagaimana dunia online dan dunia offline terhubung dan peringatkan anak tentang berbagai risiko yang akan dihadapi secara online.

Cara Mengatasi Bullying

  1. Ajarkan cara bersikap: Ajari korban untuk menghindar dari pelaku, atau secara tegas mengatakan “Jangan ganggu saya”.
  2. Jangan membalas dengan kekerasan: Jangan mengajari untuk melawan pelaku dengan cara yang sama, karena akan memperburuk keadaan.
  3. Tingkatkan kepercayaan diri: Berikan dukungan agar korban tetap percaya diri dan tidak merasa sendirian.
  4. Pengawasan yang lebih ketat di sekolah: sekolah perlu memberikan perhatian lebih pada interaksi antar siswa, terutama di kantin, toilet, dan lapangan. Pengawasan ini bisa mencegah terjadinya bullying fisik dan verbal.
  5. Penguatan Aturan dan Sanksi: memiliki aturan yang jelas tentang bullying dan menerapkan sanksi tegas bagi pelaku.
  6. Dukungan Psikologis untuk Korban: dengan dukungan ini, korban bisa mengatasi trauma dan mendapatkan kembali kepercayaan diri mereka kembali.
  7. Laporkan dan cari bantuan: Laporkan insiden bullying kepada pihak berwenang atau orang yang lebih tua agar dapat ditangani dengan serius.

Apa Dilakukan Jika Anak Saya Melakukan Bullying Kepada Orang Lain

Anak-anak yang sering melakukan bullying hanya ingin menyesuaikan diri, membutuhkan perhatian atau hanya mencari tahu bagaimana menghadapi emosi yang rumit. Dalam beberapa kasus, pelaku bullying sendiri adalah korban atau saksi kekerasan di rumah atau di lingkungan mereka.

Beberapa Langkah Yang Harus Diambil Untuk Membantu Anak Menghentikan Bullying:

  1. Komunikasikan: Memahami alasan anak bertingkah melakukan bullying akan membantu Anda tahu cara membantu mereka berhenti melakukan bullying. Apakah mereka merasa tidak aman di sekolah? Apakah mereka berkelahi dengan teman atau saudara?
  2. Jika merasa kesulitan: Konsultasilah dengan seorang konselor, pekerja sosial, atau profesional kesehatan mental yang dilatih untuk bekerja dengan anak-anak.
  3. Menyelesaikan masalah dengan cara baik: Berikan cara bereaksi yang konstruktif, bertukar pikiran tentang rencana ke masa depannya.
  4. Dorong anak untuk “menempatkan diri pada posisi orang lain”: dengan membayangkan pengalaman orang yang dibully. Ingatkan anak Anda bahwa komentar secara online bisa terasa sangat menyakitkan seperti di dunia nyata.
  5. Berkaca pada diri sendiri: Anak yang melakukan bullying seringkali meniru apa yang mereka lihat di rumah. Apakah mereka terpapar perilaku berbahaya secara fisik atau emosional dari Anda atau orang lain? Lihatlah pada diri sendiri sebagai orang tua dan pikirkan dengan jujur ​​tentang bagaimana Anda memperlakukan anak Anda.
  6. Berikan konsekuensi dan peluang untuk menebus kesalahan: Jika Anda mengetahui anak telah melakukan bullying, berikan konsekuensi yang tepat dan tanpa kekerasan. Misalnya bisa dengan membatasi aktivitas mereka, terutama kegiatan yang mendorong bullying (berkumpul bersama teman ‘geng’nya, waktu bermain media sosial atau online). Dorong anak Anda untuk meminta maaf kepada teman-temannya dan mencari cara agar mereka lebih positif di masa depan. (YSM)
Artikel ini telah dibaca 28 kali

Apa Komentar kamu swaps ?

Baca Lainnya

Lomba Bulan Bahasa Bali ke VIII Tahun 2026,Dengan Tema “ATMA KERTHI UDIANA PURNANING JIWA” di Laksanakan

5 February 2026 - 17:04 WIB

Babinsa Koramil 1611-07/Denbar Laksanakan Sidak dan Pendataan Duktang Non Permanen di Br. Tegeh Sari

4 February 2026 - 21:56 WIB

PERTEMUAN SINERGI PEMKAB SUMBA BARAT DAN STAKEHOLDER BALI,UPAYA PREVENTIF DAN ELIMINASI STIGMA NEGATIF TERHADAP WARGA SUMBA DI BALI

19 January 2026 - 15:05 WIB

Akhir Pekan, Polres Bangli Tingkatkan Pengamanan Kunjungan Wisatawan di Kawasan Obyek Wisata Kintamani

17 January 2026 - 19:49 WIB

Pangdam IX/Udayana Resmikan 10 Unit RTLH Hasil Kolaborasi Lintas Sektor di Buleleng

17 January 2026 - 18:13 WIB

Akhirnya Bos Minyak Nomor Satu di Denpasar Man Tompel Ditahan

16 January 2026 - 18:29 WIB

Trending di News
Home
Hot News
Trending
Instagram