
SwapNews8 MENIT · SELESAI ± 07.50
Bullying: Bukan Hanya Luka Fisik: Tekanan Mental Bisa Dirasakan Sampai Dewasa
BOGOR. swapnews.co.id - Dalam berbagai aspek kehidupan, baik di lingkungan pendidikan, tempat kerja, maupun dunia maya, fenomena “Bullying” terus menunjukkan peningkat...

Aa
Yang perlu Anda ketahui
BOGOR. swapnews.co.id - Dalam berbagai aspek kehidupan, baik di lingkungan pendidikan, tempat kerja, maupun dunia maya, fenomena “Bullying” terus menunjukkan peningkat...
8 menit baca 182 pembacaSwapNews

- Bullying verbal: Melibatkan kata-kata menyakitkan seperti menghina, mengancam, mengejek, mengolok-olok, pemanggilan nama kasar (misalnya menggunakan nama orang tua secara kasar) atau menyebarkan gosip. Kata-kata menyakitkan yang ditujukan untuk korban bisa menghancurkan harga diri dan citra diri korban, membekas di hati dalam waktu yang lama dan mempengaruhi kesehatan jiwa nya. Contoh: : “Main sendiri saja kamu, kamu kan miskin!”
- Bullying fisik: biasanya meninggalkan bekas luka di bagian tubuh (memar) dan kontak fisik atau merusak barang milik korban. Contoh: memukul, menendang, menjegal, mencubit, atau mendorong seseorang. Selain melukai tubuh, perusakan barang berharga juga termasuk bullying fisik yang dilakukan secara tidak langsung.
- Bullying sosial (relasional): Melibatkan perlakuan buruk yang ditujukan untuk merusak reputasi atau hubungan sosial korban. contoh: memfitnah atau menyebarkan gosip tentang seseorang, melontarkan lelucon untuk mempermalukan dan menghina orang lain, mendorong orang lain di sekitar untuk mengucilkan seseorang, sinis yang ditujukan untuk mengintimidasi secara halus.
- Bullying siber (cyberbullying): terjadi melalui media digital seperti media sosial, game online, dan platform lain yang menyediakan kolom interaksi. Contoh: mengirimkan teks, email, gambar, atau video yang isinya mengejek, mengancam, bernada kasar, berbau seksual, dan agresif. Mengucilkan seseorang di lingkup pertemanan online dengan sengaja. Menyebarkan kisah atau aib tentang seseorang di media sosial. Meniru orang lain dengan menggunakan foto dan informasi pribadi mereka. Mengunggah klip pribadi tanpa persetujuan dengan tujuan mempermalukan seseorang, seperti balas dendam porno.

- Tanda Fisik: biasanya yang paling mudah dikenali. Cari tanda seperti pakaian sobek, benjolan, goresan, patah tulang dan memar yang tidak mudah dijelaskan.
- Masalah Akademik: Menunjukkan penurunan pencapaian akademik akibat dari lambat berpikir, ketidakhadiran, bolos, takut pergi kemana-mana.
- Anak yang sering diejek tanpa henti dalam waktu yang lama dapat berubah menjadi pendiam, menarik diri, takut bertemu orang lain.
- Kadang menjadi pemarah (agresif), emosional (moody).
- Takut da sangat waspada.
- Merasa terintimidasi
- Rendah diri.
- Tampak cemas dan tidak tenang.
- Sulit berkonsentrasi dan mudah lupa.
- Kurang kreatif dan inovatif, serta tidak teliti.
- Terlihat tidak memiliki teman dan tidak mau bergaul/bersosialisasi.
- Pakaian, alat elektronik, atau barang-barang pribadi lainnya hilang atau hancur.
- Seringkali meminta uang untuk alasan yang mungkin kurang jelas atau mencurigakan.
- Mencoba terus menerus ingin dekat orang dewasa.
- Tidak tidur nyenyak dan mungkin mengalami mimpi buruk
- Tiba-tiba sering mengeluh sakit kepala, sakit perut atau penyakit fisik lainnya.
- Sering tertekan setelah menghabiskan waktu online atau memainkan telepon genggam atau komputer (tanpa penjelasan yang masuk akal).
- Menjadi sangat rahasia, terutama dalam hal aktivitas online.

Dampak Bullying
- Akademik: menurunnya prestasi belajar, menurunkan kemampuan analisis, memengaruhi fokus dan perhatian, hingga menurunkan produktivitas.
- Mental: trauma, kecemasan, gelisah, merasa takut setiap waktu, lebih mudah marah, hingga depresi kronis dan bahkan potensi untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap diri sendiri maupun orang lain. Korban memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan mental di masa dewasa,
- Gangguan hubungan sosial: hilangnya kepercayaan diri dan kesulitan untuk bersosialisasi
- Kesehatan fisik: sakit kepala, nyeri otot, sakit perut, perubahan berat badan, hingga penurunan imun tubuh yang berisiko meningkatkan beragam penyakit atau gangguan kesehatan.
- Penurunan kualitas hidup: penggunaan obat terlarang dan keinginan untuk melukai diri sendiri atau bunuh diri. Lebih dari itu, pengalaman traumatis ini dapat memperkuat siklus kekerasan dan menular ke generasi berikut, sehingga menimbulkan efek domino yang merusak fondasi sosial bangsa.
- Lebih dari itu, pengalaman traumatis ini dapat memperkuat siklus kekerasan dan menular ke generasi berikut, sehingga menimbulkan efek domino yang merusak fondasi sosial bangsa.
- Berperilaku agresif dan impulsif.
- Memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang terlalu tinggi.
- Tidak takut untuk melakukan kekerasan.
- Berwatak keras.
- Selalu ingin mendominasi orang lain.
- Kurangnya rasa empati dengan orang lain.
- Dengan melakukan bullying, mereka merasa punya kekuasaan.
- Mudah marah.
- Berpotensi menjadi pelaku kriminal di kemudian hari.
- Bersikap kasar.
- Berisiko tersangkut masalah hukum
- Ajari anak tentang bullying: berikan pemahaman mendalam tentang bullying. Pengetahuan ini penting agar mereka dapat mengenali dan menghindari perilaku ini.
- Bicaralah terbuka dan sering pada anak: Semakin sering anda berbicara dengan anak tentang bullying, semakin nyaman mereka memberi tahu Anda jika mereka melihat atau mengalaminya. Bicaralah dengan anak mengenai apa yang dianggap baik dan buruk.
- Bantu anak agar menjadi panutan yang positif: Ada tiga pihak yang terlibat dalam bullying: korban, pelaku, dan saksi. Bahkan jika anak-anak bukan korban bullying, mereka dapat mencegah bullying dengan bersikap positif, hormat, dan baik kepada teman sebayanya. Jika mereka menyaksikan bullying maka mereka dapat membela korban dan menawarkan dukungan atau bantuan.
- Membantu membangun kepercayaan diri anak: Dorong anak untuk mengikuti kegiatan yang ia sukai. Ini akan membantu membangun kepercayaan diri serta menambah teman dengan minat yang sama.
- Jadilah teladan: Tunjukkan pada anak cara memperlakukan orang lain dengan kebaikan dan rasa hormat, termasuk membela ketika orang lain diperlakukan dengan tidak baik. Anak melihat orang tua sebagai contoh bagaimana cara berperilaku.
- Jadilah bagian dari pengalaman online mereka: orang tua harus membiasakan diri dengan platform yang digunakan anak, jelaskan bagaimana dunia online dan dunia offline terhubung dan peringatkan anak tentang berbagai risiko yang akan dihadapi secara online.

- Ajarkan cara bersikap: Ajari korban untuk menghindar dari pelaku, atau secara tegas mengatakan "Jangan ganggu saya".
- Jangan membalas dengan kekerasan: Jangan mengajari untuk melawan pelaku dengan cara yang sama, karena akan memperburuk keadaan.
- Tingkatkan kepercayaan diri: Berikan dukungan agar korban tetap percaya diri dan tidak merasa sendirian.
- Pengawasan yang lebih ketat di sekolah: sekolah perlu memberikan perhatian lebih pada interaksi antar siswa, terutama di kantin, toilet, dan lapangan. Pengawasan ini bisa mencegah terjadinya bullying fisik dan verbal.
- Penguatan Aturan dan Sanksi: memiliki aturan yang jelas tentang bullying dan menerapkan sanksi tegas bagi pelaku.
- Dukungan Psikologis untuk Korban: dengan dukungan ini, korban bisa mengatasi trauma dan mendapatkan kembali kepercayaan diri mereka kembali.
- Laporkan dan cari bantuan: Laporkan insiden bullying kepada pihak berwenang atau orang yang lebih tua agar dapat ditangani dengan serius.
- Komunikasikan: Memahami alasan anak bertingkah melakukan bullying akan membantu Anda tahu cara membantu mereka berhenti melakukan bullying. Apakah mereka merasa tidak aman di sekolah? Apakah mereka berkelahi dengan teman atau saudara?
- Jika merasa kesulitan: Konsultasilah dengan seorang konselor, pekerja sosial, atau profesional kesehatan mental yang dilatih untuk bekerja dengan anak-anak.
- Menyelesaikan masalah dengan cara baik: Berikan cara bereaksi yang konstruktif, bertukar pikiran tentang rencana ke masa depannya.
- Dorong anak untuk "menempatkan diri pada posisi orang lain": dengan membayangkan pengalaman orang yang dibully. Ingatkan anak Anda bahwa komentar secara online bisa terasa sangat menyakitkan seperti di dunia nyata.
- Berkaca pada diri sendiri: Anak yang melakukan bullying seringkali meniru apa yang mereka lihat di rumah. Apakah mereka terpapar perilaku berbahaya secara fisik atau emosional dari Anda atau orang lain? Lihatlah pada diri sendiri sebagai orang tua dan pikirkan dengan jujur tentang bagaimana Anda memperlakukan anak Anda.
- Berikan konsekuensi dan peluang untuk menebus kesalahan: Jika Anda mengetahui anak telah melakukan bullying, berikan konsekuensi yang tepat dan tanpa kekerasan. Misalnya bisa dengan membatasi aktivitas mereka, terutama kegiatan yang mendorong bullying (berkumpul bersama teman ‘geng’nya, waktu bermain media sosial atau online). Dorong anak Anda untuk meminta maaf kepada teman-temannya dan mencari cara agar mereka lebih positif di masa depan. (YSM)

Memuat komentar...