BOGOR. Swapnews.co.id – Kalau ngomongin kuliner Jepang, sushi pasti langsung memunculkan citra kuliner Jepang yang elegan, presisi, dan premium: nasi cuka yang dibentuk sempurna, dihiasi irisan ikan mentah segar (sashimi), disajikan dengan wasabi yang menyengat. Tapi ternyata, sushi yang kita kenal sekarang punya perjalanan sejarah yang panjang, lho.
Dilansir dari The Collector, asal-usulnya ternyata nggak sepenuhnya berawal dari Jepang. Ada banyak kisah menarik di balik makanan populer ini yang mungkin belum banyak diketahui orang. Makanan ikonik Jepang ini ternyata memiliki asal-usul yang jauh lebih “primitif,” tidak berasal dari Negeri Sakura, dan bahkan berawal dari tradisi membuang nasi.
Penasaran? Yuk, simak fakta-fakta seru mengenai sejarahnya!
- Asalnya Bukan dari Jepang, Tapi Asia Tenggara
Awalnya sushi (sushi klasik atau nare-zushi) bukanlah nasi yang dibentuk, melainkan teknik pengawetan ikan yang berasal dari wilayah Sungai Mekong, Asia Tenggara, sekitar abad ke-2 Masehi (diperkirakan Vietnam atau Thailand modern).
Karena cuaca panas di iklim tropis bikin makanan cepat basi, masyarakat kuno membersihkan ikan (biasanya ikan air tawar), melumurinya dengan garam, lalu menimbunnya di dalam nasi yang dimasak. Proses fermentasi (fermented) berlangsung berbulan-bulan. Asam laktat yang dihasilkan dari nasi akan mengawetkan ikan agar tidak busuk.
Setelah ikan awet dan siap dimakan, nasinya dibuang. Nasi itu hanyalah medium, dianggap terlalu asin dan asam untuk dikonsumsi. Tradisi nare-zushi inilah yang kemudian menyebar ke Tiongkok, dan baru masuk ke Jepang pada periode Nara (sekitar abad ke-8).
Nah, tradisi ini menyebar ke Tiongkok, lalu masuk ke Jepang dengan nama nare-zushi alias sushi fermentasi.
- Sushi Jadi Makanan Berharga di Jepang
Pertama kali muncul di Jepang pada periode Nara (710–794). Dalam Kode Yōrō atau seperangkat aturan pemerintahan di Jepang kuno, disebutkan bahwa sushi fermentasi dijadikan upeti untuk istana kekaisaran.
Jadi, sejak awal sudah dianggap makanan berharga karena masyarakat Jeppang percaya makanan ini mempunyai banyak manfaat kesehatan, sampai ada kebiasaan merendamnya dalam air panas untuk dijadikan semacam teh obat.

- Dari Fermentasi ke “Sushi Cepat”
Awalnya, memang butuh waktu lama karena proses fermentasinya. Tapi di periode Muromachi (1336–1573), orang Jepang mulai mempersingkat fermentasi, bahkan makan nasi bersama ikannya.
Saat masuk era Edo (1603–1867), mereka menemukan cara praktis dengan menambahkan cuka langsung ke nasi. Lahirlah gaya haya-zushi alias sushi cepat, yang bisa langsung dimakan tanpa menunggu berbulan-bulan.
Dari sini juga berkembang berbagai variasi, termasuk sushi kotak (hako-zushi) hingga sushi gulung.
- Awal Sushi Modern
Sushi modern yang kita kenal sekarang, dengan potongan ikan segar di atas nasi baru muncul pada awal 1800-an. Koki bernama Hanaya Yohei di Edo (sekarang Tokyo) memperkenalkan nigiri-zushi sebagai makanan praktis yang bisa dimakan cepat.
Dari yang awalnya dijual di kios pinggir jalan, kemudian berkembang jadi restoran. Setelah Gempa Besar Kanto 1923 membuat harga tanah murah dan memungkinkan warung kecil beralih ke restoran dalam ruangan.
- Jadi Populer di Berbagai Negara
Sushi mulai populer di Barat sejak awal 1900-an lewat imigran Jepang. Tapi, orang Amerika awalnya ogah makan ikan mentah dan nori yang warnanya hitam. Untuk menyesuaikan, para koki di Amerika Utara menambahkan bahan-bahan yang lebih kebarat-baratan seperti alpukat dan krim keju.
Hal ini, yang membuat rekan-rekan mereka di Jepang kesal, justru melahirkan variasi sushi khas Barat seperti California roll.

- Di zaman modern, terutama ketika sushi diekspor ke Barat, esensi sehatnya mulai terdistorsi, berubah menjadi jebakan kalori tersembunyi yang harus diwaspadai:
- Jebakan Nasi Putih: Satu porsi gulungan (roll) sushi modern terlihat kecil, tetapi seringkali mengandung nasi putih yang sudah dicampur gula dan cuka. Beberapa ahli gizi memperingatkan bahwa mengonsumsi beberapa gulungan bisa setara dengan mengonsumsi kalori dan karbohidrat yang sangat tinggi, berkebalikan dengan citra ‘makanan diet’ yang melekat padanya.
- Lemak Tak Perlu: Menu fusion seperti California Roll yang dipadukan dengan mayonnaise pedas, saus teriyaki manis, atau lapisan tempura renyah, menambahkan lemak trans dan kalori ekstra yang membunuh manfaat kesehatan dari ikan itu sendiri.
- Ancaman Merkuri: Sushi Grade Bukan Jaminan Bebas Risiko
Secara nutrisi, sushi tradisional memang sangat luar biasa: tinggi protein, kaya asam lemak, Omega-3 (baik untuk otak dan jantung), serta mengandung antioksidan dari nori (rumput laut) dan wasabi. Namun, ada ancaman yang tersembunyi yaitu: keracunan merkuri.
Ikan predator besar seperti Tuna (yang populer di maguro sushi) memiliki umur panjang dan berada di puncak rantai makanan laut, sehingga cenderung mengakumulasi logam berat seperti merkuri dari polusi laut. Konsumsi berlebihan ikan ini (terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil) bisa menjadi risiko neurologis yang serius.

Oleh karena itu, menikmatinya tidak cukup hanya dengan memegang sumpit yang benar. Anda harus bersikap kritis dan cerdas: Pilih sushi grade dari restoran terpercaya (untuk meminimalkan risiko parasit), batasi ikan besar (seperti tuna), dan yang terpentinya, jangan sampai termakan mitos bahwa semua yang digulung dengan nori dan nasi pasti sehat.
Nah, itu dia sejarahnya, dari makanan fermentasi sederhana di Asia Tenggara lalu berubah menjadi sajian elegan di restoran mewah. Sekarang, sushi bukan cuma bagian dari budaya Jepang, tapi juga kuliner yang mendunia dan disukai banyak orang. (YSM)









Apa Komentar kamu swaps ?