Menu

Mode Gelap

Psikologi · 7 Oct 2025 WIB

STOP BAPER! Anak Remaja ‘Ngegas’ Bukan Berarti Durhaka, Tapi Otaknya Sedang DILANDA Perang Hormon


					Anak remaja membentak orang tua Perbesar

Anak remaja membentak orang tua

BOGOR. Swapnews.co.id – Memasuki masa remaja, banyak orangtua mulai merasa kewalahan menghadapi perubahan sikap anak. Salah satu perilaku yang paling sering membuat hati terluka adalah ketika anak remaja membentak orangtua atau menjawab dengan nada tinggi.

Respons seperti ini tidak jarang membuat orangtua merasa tidak dihargai, bahkan dianggap gagal dalam mendidik. Namun menurut psikolog, perilaku membentak bukan semata-mata karena anak tidak sopan, melainkan bisa menjadi sinyal bahwa ia sedang mengalami tekanan emosional.

Itu sebabnya, penting bagi orangtua untuk memahami apa yang sebenarnya anak rasakan di balik kata-kata yang menyakitkan itu. Simak pembahasan selengkapnya tentang anak remaja membentak orang tua berdasarkan penjelasan Psikolog Anak berikut ini :

  1. Perubahan Hormon Membuat Emosi Remaja Meledak Tanpa Disadari

Poin fundamental yang harus dipahami orangtua adalah bahwa masa remaja adalah periode revolusi biologis. Memasuki usia remaja, tubuh anak mengalami perubahan hormon yang cukup drastis.

Lonjakan hormon inilah yang berpengaruh langsung pada cara kerja otak, khususnya bagian yang mengatur emosi dan kontrol diri. Karena itu, remaja sering kali bereaksi spontan dengan nada tinggi atau terlihat ‘ngegas’ saat berbicara dengan orangtua.

Menariknya, banyak remaja yang sebenarnya juga bingung dengan perubahan emosinya sendiri. Mereka bisa merasa kaget atau menyesal setelah berbicara dengan nada tinggi, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengontrolnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ledakan emosi mereka bukan semata-mata bentuk pembangkangan, melainkan bagian dari proses biologis yang mereka sendiri belum pahami sepenuhnya.

“Pada saat remaja awal itu, banyak perubahan hormon di otak mereka yang kalau mereka sendiri ditanya ‘aku juga kaget kenapa aku se-ngegas itu ngomong ke orangtua’. Jadi itu lebih karena isu biologis akibat adanya perubahan hormon,” kata Dr. Anastasia Satriyo, Psikolog Anak dan Praktisi Play Therapy, di acara ‘Peluncuran Lexus Edisi Spesial BT21’ pada hari Jumat (10/10/2025).

Artinya, respons spontan dengan nada tinggi bukanlah hasil dari perencanaan sadar untuk melawan, melainkan sering kali merupakan ledakan emosi tak terduga yang bahkan membingungkan si remaja itu sendiri.

  1. Anak Remaja Sedang Kesulitan Mengontrol Emosinya

Ketika anak berbicara dengan nada tinggi, orangtua sering ikut terpancing emosi. Pengalaman dimarahi oleh orang tua di masa lalu tanpa berdialog, membuat sebagian orangtua menjadi sensitif terhadap respons keras dari anak.

Akibatnya, Kondisi ini menciptakan lingkaran setan: remaja yang sedang kesulitan menata emosi (faktor biologis) bertemu dengan orangtua yang bereaksi karena luka masa lalu (faktor psikologis). Konflik pun memanas karena kedua belah pihak merasa diserang dan tidak dipahami.

Dalam situasi ini, yang paling dibutuhkan sebenarnya bukan balasan emosi, melainkan pemahaman bahwa anak mungkin tidak bermaksud kasar, melainkan sedang kesulitan menata emosinya.

“Makanya yang dibutuhin orangtua adalah pengertiannya bahwa anak nggak maksud buat kayak gitu. Kadang kalau anak nada suaranya tinggi, orangtua bereaksi juga akibat inner teenager-nya ke-trigger karena dulu pernah dimarahi orangtua jadi makin rungsing di masa-masa itu,” jelas Dr. Anastasia Satriyo.

  1. Pentingnya Orangtua Membimbing Anak Mengenali Emosinya

Pada dasarnya, anak remaja tidak sepenuhnya sadar terhadap apa yang mereka rasakan. Mereka tahu mereka marah, kesal, atau gelisah, tetapi tidak tahu mengapa atau bagaimana mengelola luapan tersebut selain melalui cara yang paling spontan dan destruktif: membentak atau menjawab dengan nada tinggi.

Di sinilah peran orangtua menjadi sangat penting, selain sebagai penegak disiplin tetapi juga membantu anak memahami emosi yang sedang mereka alami. Orangtua harus bertransformasi menjadi pembimbing emosional (emotional coach).

“Anak remaja nggak aware sama emosi mereka, makanya perlu dibantu orangtua,” ucap Dr. Anastasia Satriyo.

Dengan pendekatan yang tenang, suportif dan non-judgemental, orangtua menciptakan safe space (ruang aman) bagi anak. Melalui pendekatan yang tenang, suportif, dan, Ini adalah ruang di mana anak bisa belajar anak untuk bercerita, belajar mengenali menamai emosinya (“Kamu terdengar frustrasi, apa yang membuatmu kesal?”), menerimanya, dan perlahan-lahan mengelolanya dengan cara yang lebih sehat.

Kesimpulan: Sudah saatnya masyarakat, khususnya para orangtua, berhenti mendramatisasi perilaku ‘ngegas’ remaja sebagai tanda kenakalan absolut. Dengan pemahaman ilmiah bahwa lonjakan emosi tersebut sebagian besar adalah manifestasi dari perkembangan otak yang belum matang dan perubahan hormon, kita bisa menggeser fokus dari hukuman menjadi pembinaan.

Krisis remaja bukanlah cermin kegagalan orangtua di masa lalu, melainkan panggilan untuk berubah peran menjadi partner yang membantu mereka menavigasi badai terbesar dalam hidup mereka: diri mereka sendiri. Membentak balik hanya akan melanggengkan trauma; berempati dan membimbing adalah investasi masa depan yang jauh lebih cerdas.  (YSM)

 

Artikel ini telah dibaca 35 kali

Apa Komentar kamu swaps ?

Baca Lainnya

11.11 ‘Perlawanan’ Kaum Jomblo pada Stigma Wajib Punya Pasangan!

10 November 2025 - 08:05 WIB

11 November, SINGLES DAY

Buffalo Mindset: Ketika Hidup Mengajarkan Kita Untuk Tidak Lari Dari Badai

4 November 2025 - 10:45 WIB

BERHENTI BERUSAHA SEMBUH! Kenapa Luka Batin Cukup DIPAHAMI, Bukan Dihapus Total.

3 November 2025 - 07:44 WIB

luka batin cukup dipahami

Mouth Taping, Fakta Atau Risiko Fatal?

31 October 2025 - 07:48 WIB

MOUTH TAPING, FAKTA ATAU RISIKO FATAL?

Apakah Bipolar Disorder itu ?

30 October 2025 - 01:22 WIB

Bipolar Disorder

SELF TALK

28 October 2025 - 07:51 WIB

Trending di Psikologi
Home
Hot News
Trending
Instagram